Sabtu, 19 November 2011

Minggu, 09 Oktober 2011

SEKRIPSIKU


Perbandingan akhlaq anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusan Sekolah Dasar di MTs Negeri Pamulihan

A.  Latar Belakang Masalah
Manusia adalah mahluk yang diciptakan oleh Allah SWT sempurna, selain keaneka ragaman corak, budaya, bahasa, suku bangsa, warna kulit, dan juga dilengkapi dengan pikiran yang berfungsi sebagai alat berpikir. Setiap manusia memiliki potensi-potensi yang tersimpan dalam jiwa manusia, diantaranya: manusia sebagai mahluk sosial, manusia sebagai mahluk susila, manusia mahluk yang berkeinginan memiliki, mencintai, menguasai, dan di samping itu juga manusia memiliki fitrah yang positif untuk mengajak kepada ajaran kebaikan.
            Hakikat manusia sekilas saja kita ketahui, bahwa tugas hidup manusia sebelum menjadi hamba allah yang shaleh dan mampu menjadi wakil tuhan (kholifah) dimuka bumi ini tentu harus di mulai dengan belajar atau menuntut ilmu, yaitu melalui jalur pendidikan.
            Islam menempatkan pendidikan sebagai salah satu yang esensial dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan manusia dapat membentuk keperibadian, selain itu melalui pendidikan manusia dapat memahami dan menterjemaahkan lingkungan yang dihadapi, sehingga dapat menciptakan suatu karya yang gemilang melalui penelaahan terhadap alam sekitar, yang diperoleh dengan proses pendidikan. Dengan proses pendidikan manusia dapat menghasilkan ilmu pengetahuan.
            Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menjadikan pedoman umat islam yang mengharuskan umatnya untuk mendalami dan mengembangkasn ilmu pengetahuan. Secara teoritis, ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia tidak muingkin dimilikinya tanpa adanya proses pendidikan. Sedangkan pendidikan  sendiri dapat dikasih makna sebagai usaha memasukan ilmu pengetahuan dari orang yang dianggap memilikinya kepada mereka yang dianggap belum memillikinya. Berdasaarkan pengertian ini maka pendidikan berlangsung dalam tiga proses, proses itu adalah: ilmu, usaha memasukannya kepada mereka yang belum memilikinya, dan orang yang dianggap memiliki ilmu(Hasan Langulung, 1988:44)
            Dalam segi istilah pendidikan adalah suatu usaha sadar yang dilakukan orang dewasa kepada mereka yang dianggap belum dewasa. Pendidikan adalah transformasi ilmu pengetahuan, budaya, sekaligus nilai-nilai yang berkembang pada satu generasi agar dapat ditransformasikan pada generasi berikutnya, Dalam pengertian ini, pendidikan tidak hanya mentrasformasikan ilmu, melainkan budaya dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Pendidikan adalah suatu proses yang menyangkut: 1) proses transformasi informasi (proses pembelajaran), 2) perkembangan pribadi, 3) interaksi sosial, dan 4) modifikasi tingkah laku
( Moh Uzer Usman, 1992:1)
            Dengan pendidikan manusia bisa bersikap lebih dewasa, berpengengetahuan dan bijaksana, kehidupan lebih terarah dan berkepribadian yang dibekali dengan keterampilan, sehingga memberikan atau berpeluang untuk sehat baik jasmani maupun rohani dan menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Serta terciptanya tujuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang diarahkan  kepada manusia sebagai mahluk sosial secara menyeluruh, bukan berarti dalam satu lingkungan secara sempit melaunkan secara nasional sesuai dengan UUNomor 12 Tahun 1989 Bab II Pasal 4.
Pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetehuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, keperibadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (UU. Sistem Pendidikan Nasional, 1995:4)

            UU diatas menjelaskan bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya. Dalam pencapaian tujuan itu tidak lepas dari peran serta pendidikan. Peran serta pendidikan merupakan upaya untuk terciptanya kualitas sumberdaya manusia(Hartono dan Azis, 1993:120).
            Dewasa ini bangsa Indonesia tengah dilanda krisis keterpurukan dalam berbagai bidang baik material, spiritual, akhlak. Oleh karena itu perlu adanya dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkannya. Salah satunya melalui jalur pendidikan sebagai salah satu untuk terciptanya sumber daya manusia yang baik. Seperti tertuang dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) sebagai arti dari pendidikan, yaitu:       
Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana proses belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian, keperibadian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan Negara.
( UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat(1)).

Dari UU diatas aspek yang harus paling disoroti disini yaitu akhlak mulia, akhlak yang terpenting dimiliki oleh setiap manusia, akhlaq yang baik menggambarkan keperibadian manusia yang baik, karena akhlaq manusia bisa bersosialisasi dengan orang lain. Penjabaran UU diatas selain kecerdasan, keperibadian, keterampilan, spiritual keagamaan yang baik yaitu akhlak mulia.
Pembinaan akhlak harus dimulai semenjak dini, karena pendidikan akhlaq diusia kanak-kanak itu lebih efisien dan supaya mereka terbiasa. Selain itu berakhlak mulia juga sebagai bekal si anak supaya bisa bersosialisasi dengan baik di waktu dewasa bahkan sebagai bekal untuk bermasyarakat.
Di negara Indonesia ada dua institusi pendidikan, yang pertama dibawah Kementrian pendidikan dan yang kedua dibawah Kementrian Agama. Yang berada dibawah institusi kementrian pendidikan diantaranya: TK, SD, SMP, SMU. Dan yang berada dibawah institusi kementrian agama yaitru: RA, MI, MTs, MA. Kedua institusi diatas merupakan suati permasalahan yang menarik untuk penilis teliti, yaitu sejauh mana perbandingan akhlak dari kedua institusi tersebut.
Akhlaq anak sehari-hari merupakan cerminan akhlaq buat generasi yang akan datang, bahkan suatu negara akan maju disebabkan oleh sumber daya manusianya yang berakhlaq baik, dan sebaliknya negara hancur disebabkan oleh akhlaq manusianya yang jelek. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang masalah ahlak tersebut. Dan karma luasnya masalah yang diteliti, maka penulis membatasi penelitian masalah tersebut di anak MTs. Yang mana di MTs tersebut ada anak lulusan dari Madrasah Ibtidaiyah dan Anak yang lulusan dari Sekolah Dasar. Maka peneliti bermaksud untuk mengangkat judul “Perbandingan Ahlak Anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah dengan akhlak anak lulusan sekolah dasar ” di MTs Negeri Pamulihan Sumedang
B.       Rumusan Masalah
dari latar belakang masalah diatas maka dirimuskan melalui pertanyaan-pertanyaan berikut:
  1. Bagaimana akhlaq anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah di MTs Negri Pamulihan Sumedang
  2. Bagaimana akhlaq anak lulusan Sekolah Dasar di MTs Negri Pamulihan Sumedang
  3. Bagaimana perbandingan akhlaq anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusan Sekolah Dasar di MTs Negri Pamulihan Sumedang

C.      Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui ahlak anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah di MTs Negri Pamulihan Sumedang
2.    Untuk mengetahui ahlak anak lulusan Sekolah Dasar di MTs Negri Pamulihan Sumedang
3.    Untuk mengetahui perbandingan akhlaq anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusa Sekolah Dasar di MTs Negri Pamulihan Sumedang



D.      Kerangka Penelitian
Akhlaq adalah tingkahlaku yang di pengaruhi oleh nilai-nilai yang di yakini oleh seseorang dan sikap menjadi kebahagiaan dari pada kepribadian nilai dan sikap itu pula terpancar dari pada konsep dan gambarannya terhadap hidup. Dengan kata lain, nilai-nilai dan sikap terpancar dari akidahnya yaitu gambaran tentang kehidupan yang di pegang dan di yakini.
Ahmad Amin(1975) mendefinisikan sesuatu yang mencirikan akhlak itu adalah yang di biasakan maksudnya, sesuatu yang mencirikan akhlaq itu kehendak yang di biasakan artinya kehendak itu membiasakan sesuatu, maka kebiasan itu dinamakan akhlak. Ahmad Amin juga menjelaskan arti kehendak, yaitu ketentuan dari beberapa keinginan manusia. Sedangkan kebiasaan ialah perbuatan yang di ulang-ulang sehingga mudah melakukannya. Maka dari itu kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan kearah menimbulkan apa yang di sebut dengan akhlak.
Tidak sedikit yang terjadi dalam praktek kehidupan, akhlak sangat menunjang untuk kelangsungan hidup sehari-hari, karena akhlaq juga manusia bisa berinteraksi sesama manusia, dan karena akhlak juga manusia bias saling memusuhi. Maka penerapan akhlak sangat penting dalam kehidupan. Untuk menumbuhkan suatu akhlaq yang baik perlu di tanamkan semenjak anak-anak, agar menjadi kebiasaan yang bisa di lakukan. Lebih tepat nya ditanamkan dari usia sekolah dasar karena seusia ini anak sudah bisa bersosialisasi dengan temannya.
Imam Ghazali menyebutkan akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa. Dari pada jiwa itu, timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melakukan pertimbangan. Akhlak adalah suatu daya yang bersemi dalam jiwa seseorang hingga dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa dipikir atau direnungkan lagi (AT-Taripah : 90)
Anak di seusia Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah kecenderungan mendidik akhlak itu sangat besar dikarenakan anak seusia itu masih terbiasa dengan lingkungan yang beraneka ragam dan sianak sendiri masih belum punya esensi buat kedepan. Sedangkan untuk mengetahui akhlaq anak dalam kehidupan sehari-hari maka harus jelas dulu indikator-indikatornya. Adapun indikatornya yang harus diteliti diantaranya :
1.      Akhlak anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah
a.       Akhlak terhadap Allah
b.      Akhlak terhadap sesama manusia
c.       Akhlak terhadap sesama mahluk ciptaan Allah
d.      Akhlak terhadap alam sekitar
e.       Akhlak terhadap diri sendiri
2.      Akhlak anak lulusan Sekolah Dasar
a.       Akhlak terhadap Allah
b.      Akhlak terhadap sesama manusia
c.       Akhlak terhadap sesama mahluk ciptaan Allah
d.      Akhlak terhadap alam sekitar
e.       Akhlak terhadap diri sendiri
Dari Uraian Kerangka pemikiran yang di jelaskan tersebut secara skematis dapat di gambarkan sebagai berikut.

Perbandingan
Akhlak anak lulusan Madrasah
Ibtidaiyah

  1. Ahlak terhadap Allah
  2. Ahlak terhadap sesama manusia
  3. Ahlak terhadap sesama mahluk ciptaan Allah
  4. Ahlak terhadap alam sekitar
  5. Ahlak terhadap diri sendiri
Akhlak anak lulusan Sekolah Dasar

  1. Ahlak terhadap Allah
  2. Ahlak terhadap sesama manusia
  3. Ahlak terhadap sesama mahluk ciptaan Allah
  4. Ahlak terhadap alam sekitar
  5. Ahlak terhadap diri sendiri

Responden
 











E. Hipotesis
Dari arti katanya, hipotesis memang dari dua penggalan kata Hypo yang artinya di bawah dan Thesa yang artinya kebenaran. Jadi hipotesis yang kemudian cara menulisnya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia menjadi hipotesis dan berkembang menjadi hipotesis.
Sanafiah faisal (1982:62) mengemukakan bahwa hipotesis merupakan suatu keterangan sementara terhadap permasalahan yang di pertanyakan, Good dan scates (1954) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang di rumuskan serta di terima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang di amati ataupun kondisi-kondisi yang di amati dan di gunakan untuk langkah-langkah selanjutnya.
Adapun kegunaan hipotesis menurut Arif Furchon (1982:126) sebagai berikut ;
  1. Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan suatu bidang
  2. Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat di uji dalam penelitian
  3. Hipotesis memberikan kearah penelitian
  4. Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan
Menuru pendapat Klinger (1973) yang dikutip oleh Moh. Nazer (2003:151) menyatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat tekaan dari hubungan antara dua variable atau lebih.
Bertitik tolak dari kerangka penelitian ini akan memusatkan perhatiannya kepada keterkaitan dua variable yaitu akhlaq anak lulusan madrasah ibtidaiyah sebagai variable X dan akhlaq anak lulusan sekolah dasar sebagai variable Y. dengan menyoroti kenyataan yang melibatkan anak lulusan madrasah ibtidaiyah dan anak lulusan sekolah dasar di MTs Negeri Pamulihan. Penulis dapat menyatakan hipotesis secara teritorial anak lulusan madrasah ibtidaiyah lebih bagus akhlaqnya di banding akhlaq anak lulusan sekolah dasar. Berdasarkan data yang terkumpul peneliti akan menguji apakah hipotesis yang di rumuskan dapat naik setatus jadi teas, atau sebaliknya tumbang sebagai hopitesis, apa bila ternyata tidak terbukti
Untuk menguji hipotesis akan di analisis secara korelasi, yaitu dengan menguji hipotesis nol(Ho) yang menyatakan ada perbedaan yang signifikan antara akhlaq anak lulusan madrasah ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusan sekolah dasar di MTs Negeri Pamulihan sumedang, dan hipotesis alternative(Ha) menyatakan tidak ada perbedaan yang signifikan antara akhlaq anal lulusan madrasah ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusan sekolah dasar. Prinsif pengujian bertolak dati tarif signifikasi 5% penulis membandingkan harga T hitung > T table, maka hipotesis nol(Ho) dinyatakan ditolak dan hipotesis alternatif(Ha) diterima. Sebaliknya jika t hitung < T table, maka hipotesis nol (Ho) diterima, dan hipotesis alternatif ditolak.

F. Langkah-Langkah Penelitian
Langkah-langkah yang dilakuan peneliti adalah sebagai berikut
  1. Jenis Data
secara garis besar data yang dikumpulkan dapat dikelasifikasikan kedalam dua jenis, yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang digambarkan dengan kata-kata yang akan dikumpulkan melalui teknik obsevasi dan wawancara. Sedangkan data kuantitatif data yang berwujud angka-angka hasi; pengukuran atau perhitungan yang diperoleh melalui angket.

  1. Sumber Data
a.      Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi di MTs Negeri Pamulihan Kecamatan Pamulihan Sumedang. Karena di lokasi ini memudahkan penulis untuk mendapatkan data yang di perlukan dan mudah dijangkau penulis.
b.      Menentukan populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi Arikunto 1998 : 45). Populasi adalah penelitian ini di tujukan kepada seluruh siswa di MTs Negeri Pamulihan, menurut kepala madrasah Tsanawiyah Negeri Pamulihan jumlah siswa di MTs Negeri Pamulihan adalah 328 Siswa jumlah anak yang lulusan dari madrasah ibtidaiyah hanya sebgaian kecilnya dari jumlah anak yang tadinya lulusan dari sekolah dasar. Jumlahnya sebagai berikut lulusan SD 314 anak, lulusan MI 14 anak.








TABEL 1
DATA SISWA MENURUT ASAL SEKOLAH
TAHUN PELAJARAN 2010/2011
No
Kelas
SD
MI
Jumlah
1
VII
108
6
114
2
VIII
93
7
100
3
IX
113
1
114
Jumlah
314
14
328

c.       Menentukan Sampel
Sampel adalah sebagaian atau wakil dari populasi yang di teliti (Suharsimi Arikunto 1998 : 45) yaitu :
Untuk sekedar ancer-ancer, maka apa bila subjeknya kurang dari 100 lebih baik di ambil semua, shingga penelitian merupakan penelitian populasi selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat di ambil 10-15% atau 20-25% atau lebih bergantung kemampuan peneliti, wilayah peneliti dan besar kecilnya resiko peneliti.
Berdasarkan penelitian diatas. Maka penulis mengabil jumlah keseluruhan dari anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah dan mengambil sebagian dari jumlah anak lulusan sekolah dasar untuk di lakukan penelitian.


  1. Metode Penelitian
Agar penelitian ini dapat berlangsung secara terarah dan efektif maka pendekatan umunya dapat dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan metode deskristif. Yaitu metode yang menuju kepada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang, lebih dai itu ketetapan memilih metode ini didasarkan atas pendapat Muhamad Ali (1987 : 120) yang meyatakan :
Metode deskristif digunakan untuk berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang di hadapi pada situasi sekarang dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan klasifikasi dan analisis / pengolahan data membuat penggambaran tentang sesuatu keadaan secara objektif dalam situasi deskristif situasi.
Sedangkan menurut (Moh. Nazir, 1999:63) metode deskriftif yaitu suatu metode dalam meneliti suatu kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu system pemikiran maupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang yang bertujuan untuk membuat gambaran atau lukisan secara sistematis, actual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Penulis memilih metode ini karena dengan pertimbangan bahwa penelitian yang penulis lakukukantidak hanya sebatas kesimpulan mengumpulkan data melainkan dengan pengolahan pengambilan kesimpulan yang dilengkapi dengan perhitungan statistik.

  1. Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengatisipasi masalah pengumpulan data penulis berketepatan untuk memanfaatkan teknik-teknik observasi, interview, teknik angket, dan studi dokumentasi. Rencana penempatan ke empat teknik tersebut dapat di uraikan sebagai berikut :

a.      Observasi
Observasi adalah teknik penumpulan data dimana penyelidik mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat) terhadap gejala-gejala yang di teliti (Surahmad, 1982 : 155).teknik ini di gunakan mengingat di duga terdapat sejumlah data yang hanya dapat terangkat dengan menggunakan teknik observasi meliputi gambaran umum madrasah Tsanawiyah, kelangsungan proses kegiatan belajar mengajar di Tsanawiyah, interaktif siswa dengan guru dan antara siswa
b.      Interview
Interview adalah sebuah teknik pengumpulan data yang menghendaki komunikasi langsung antara penyelidik dengan subyek sampel, sebagai mana di kemukakan Sutrisni Hadi (1986 : 192) bahwa :
Suatu proses Tanya jawab lisan dalam nama dua orang atau lebih berhadapan secara fisik, yang satu dapat melihat yang lain dapat mendengarkan dengan telinga sendiri-sendirinya tampaknya merupakan alat pengumpulan informasi yang berlangsung tentang beberapa jenis data social baik yang terpendam (laten) maupun yang manifest

Jadi data yang tidak dapat diangkat melalui observasi dan angka diharapkan akan diperoleh dengan menggunakan teknik ini.
c.       Teknik Angket
Angket dapat di pandang sebagai teknik penelitian yang banyak kesamaan dengan wawancara, kecualai dengan pelaksanaannya. Wawancara (interview) dilakukan dengan secara lisan sedangkan angket secara tulisan oleh karena itu angket juga di sebut wawancara tertulis (Ali  1987 : 87). Teknik ini di gunakan agar para responden lebih bebas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di sajikan. Pada pihak lain pemanfaatan teknik ini di dasarkan atas pertimbangan penulis seluruh siswa yang di sajikan sampel penelitian ini. Dilihat dari dari bentuknya untuk keperluan pengumpulan data ini digunakan anket berstruktur, sehingga setiap item telah disediakan alternative jawaban. Anket ini juga bersifat kooferatif, maksudnya setiap responden akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang di sediakan sesuai dengan maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian. Angket ini di maksudkan untuk memperoleh data tentang prilaku akhlaq anak lulusan madrasah ibtidaiyah dan akhlaq anak lulusan sekolah dasar di MTs Negri pamulihan Sumedang. Untuk keperluan penyekoran terhadap alternative jawaban anak, penulis akan mempertimbangkan orientasi sistem angket yang diajukan dan alternative jawaban.
d.      Studi Dokumentasi
Teknik ini di gunakan untuk memperoleh data keterangan daftar anak dan data yang dipelukan, prosesnya pelaksanaannya dilakukan pada angket sebelum di sebarkan kepada responden dengan teknik ini diharapkan penulis dapat mengetahui berapa jumlah anak, prilaku akhlaq anak sehari-hari. Alasan di gunakan studi dokumentasi ini, karena secara kualitatif data tersebut merupakan data yang cukup otentik, sehingga diharapkan dapat melengkapi kekurangan yang mungkin terungkap melalui teknik-teknik lainnya.

  1. Analisis Data 
Analisis data yang dihimpun dalam penelitian ini di kuantifikasikan ke dalam data kuantitatif. Data kuantitatif yaitu data yang di peroleh dari hasil penyebaran angket kepada anak lulusan madrasah ibtidaiyah sebagai variable X dan kepada anak lulusan sekolah dasar sebagai variable Y, dan data kualitatif yaitu data yang di peroleh dari hasil wawancara (interview) di analisis dengan menggunakan logika serta penyesuaian melalui pustaka sehubungan dengan penelitian ini, melibatkan perilaku / akhlaq anak lulusan MI dan perilaku /ahlak anak lulusan SD, maka data kualitatif akan di analisis secara logika, sedangkan data kuantitatif akan di analisis secara statistik.
Langkah pertama, memberikan skor kepada item angket yang berpedoman pada sekor penelitian untuk masing-masing variabel langkah kedua, mengangkat data variable X dan variable Y yakni mengambil rata-rata (mean) dari jumlah skor setiap item dengan menggunakan rumusan.

Variable X,         Mx = dan untuk variable Y,My =            Dimana,
Mx, My           = Mean yang dicari untuk setiap responden (X,Y)
∑X, ∑Y           = Jumlah dari skor yang ada
N                     = Number of cases (banyaknya item soal)
(Anas Sarjono, 1996 : 77).
Langkah ketiga, yaitu setelah diketahui data dari variable, selanjutnya menentukan koefisien korelasi dapat dicari melalui rumus korelasi product moment.
Dengan keterangan :
Rxy = Angka indeks korelasi “r” product moment.
N = Number of cases (subjek penelitian)
∑XY = Jumlah hasil perkalian antar skor X dan Y
∑X = Jumlah seluruh skor X
∑Y = Jumlah seluruh skor Y
Anas Sudjano, (1996 : 193)
Sebelum menggunakan rumus di atas , terlebih dahulu akan dicarikan data tentang harga-harga perhitungan korelasi yang membuat tabel yang terdiri dari 8 kolom.
Kolom I                       Subjek
Kolom II                     Data variable X                       ∑X
Kolom III                    Data variable Y                       ∑Y
Kolom IV                    Deviasi dari variable X (x)                  ∑x
Kolom V                     Deviasi dari variable Y (y)                  ∑y
Kolom VI                    Kuadrat dari variable X (x²)               ∑X²
Kolom VII                  Kuadrat dari variable Y (y²)               ∑Y²
Kolom VIII                 Jumlah perkalian antara variable X dan Y                  ∑XY

Skor terhadap perhitungan korelasi berpedoman pada ketentuan berikut ini :
Tabel 2
Data Skor Korelasi Product Momen
Besarnya “r”
Product moment
Inerpretasi
0.0    - 0.20
0.20 – 0.40
0.40 – 0.70
0.70 – 0.90
0.90 – 0.10
Koelasi sangat lemah
Korelasi lemah
Korelasi sedang
Korelasi kuat
Korelasi sangat kuat
Anas Sarjono, (1996 : 180)






Daftar Pustaka
Abu ahmadi, Metotdik Khusus Pendidikan Agama, Bandung, Armico, 1989.
Abdul Mujib, Yusuf Mudzakkir, Ilmi Pendidikan Islam, Jakarta, Kencana Prenada Media, 2006.
Ahmad Amin, Etika: Ilmu Akhlaq, Jakarta, Bulan Bintang, 1975.
Ahmad tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2006
Anas Sarjono, Pengantar Statisik Pendidikan,Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1996
Anonimus, Sistem Pendidikan nasional, Jakarta, Sinar Grafika, 1995.
Arif furchon, Pengantar Penelitian dan Pendidikan, Surabaya, Usaha Nasional, 1982
Barmawi Umar, Materi Akhlaq, Jakarta, Bumi Aksara, 1986
Hartono dan Armicu Aziz, Ilmu Sosial Dasar, Jakarta, Bumi Aksara,1993.
Hassan Gaos, Dasar-dasar Statistik Pendidikan, Bandung, Fakultas Tarbiyah IAIN SGD, 1983.
Kartini kartono, Psikologi Umum, Bandung, Mandarmaju, 1996.
Mardalis, Metode Penelitian, Jakarta, Bumi Aksara, 1989.
Moh. Nazir, Metode Penelitian, Jakarta, Grahalia Indonesia, 2003.
Muh. Uzer Usman, Menjadi Guru Propesional, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1992.
Muhamad Ali, Pengembangan kurikulum di sekolah, bandung, Sinar baru, 1992.

Abdul Mujib, Yusuf Mudzakkir, Ilmi Pendidikan Islam, Jakarta, Kencana Prenada Media, 2006.
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, Bandung, Remaja Rosda Karya, 2006.
Nana Sujana Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung, Sinar Argensindo Offset, 2004.
Sukanda Sadeli, Bimbingan akhlaq yang Mulia, Tasikmalaya, Madrasah ash-Shalih, 1983.
Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian, Jakarta, Rineka Cipta, 1997.    
Sama’un Bakry, Menggagas Ilmu Pendidikan Islam, Bandung, Pustaka Bani Quraisy, 2005.
UUSPN, Sisdiknas, Jakarta, Sinar Grafika, 2003.
Wahid, Aqidah akhlaq 2, Bandung, Armico.2004.
---------, Aqidah Akhlaq 1, Bandung, Armico. 2004.                                                                                                                 
http://www.scribd.com/doc/58940382/37/D-Interpretasi-Data

Senin, 18 Juli 2011

TUGAS FILE EXAMP KEWIRAUSAHAAN


   

PENGENALAN PELUANG DAN PEMLHAN PROYEK

Bisnis berasal dari sebuah gagasan untuk  menghasilan sebuah gagasan-gagasan yang bermanfaat, calon pengusaha harus menilai ligkungan politik, ekonomi, sosial budaya dan teknologi. Selain itu terdapat beberapa sumber informasi dan bantuan Negara yang aakan membimbingnya memperoleh peluang proyek. Akan tetapi, setelah mengenali gagasan proyek,seorang wirausaha tidak akan terburu-buru memanfaatka sumber dan energinya untuk sebuah studi kelayakaan  proyek yang memakan banyak biaya. Ada pendekatan pendahuluan bagi seorang wirausaha untuk melihat gambaran gagasan usaha lebih jauh sebelum melakuka studi pra kelayakan dan menyelesaikan studi kelayaka proyek.

   Sangat jelas sekali yang seperti dikatakan di atas, pengenalan terhadap peluang dan pemilihan pada proyek bagi seorang wira usaha harus banyak mendapatkan sumber-sumber informasi dalam pengenalan peluang dan pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan suatu proyek.
Namun ada suatu masalah yang timbul di Negara kita ini khususnya diwilayah-wilayah industry belum adanya system pengolahan limbah dari pabrik sebelum di buang ke sungai, sehingga dengan adanya system pengolahan tersebut tidak ada lagi pencemaran sungai. Sebetulnya pencemaran sungai tersebut bukan dari pabrik saja tetapi limbah rumah tangga juga salah satu yang menimbulkan pencemaran sungai.





PERENCANAAN DAN PENGORGANISASIAN PERUSAHAAN
Seorang wirausaha harus merencanakan dan mengorganisasikan proyeknya dengan penuh perhatian dan pertimbangan. Pada satu aspek penting suatu usaha merencanakan dan mengambil keputusan adaalah tugas seorang wirausaha dan tidak dapat didelegasikan. Aspek-aspek utama suatu rencana proyek yaitu: studi pasar,studi teknis dan studi keuangan,semuanya dibahassecara terperinci. Pada tahap perencanaan pengusaha juga harus waspada terhadap apa yang disebut dengan parapengancur proyek atau keadaan lingkunga yang akan mengancam keberhasilan proyek. Jika rencana proyek selesai,seorang wirausaha daapai mulai mengatur proyeknya.pengaturannya mencakup pemilihan bentuk usaha yang sah, penentuan lokasi usaha, mempekerjakan dan melatih pegawai,penentuan paket bimbingan aspek-aspek legal laainya.
Jelas sekali seperti yang dikatakan di atas,seorang wirausaha sebelum menentukan sebuah proyek harus adanya perencanaan dan pertimbangan-pertimbangan  sebelum pengambilan keputusan. Seorang wirausaha juga harus mengkaji dengan teliti dalam perencanaan proyek,yaitu studi pasar meliputi pemasaran produk dan ketersediaan bahan baku, studi teknis terhadap kelangsungan produksi dan jam kerja, alat-alat produksi yang dibutuhkan, dan yang terakhir yaitu studi keuangan yang berfungsi untuk menentukan biaya kelangsungan produksi. Selain itu seorang wirausaha juga harus memperhatikan lingkungan yang ada di sekitar proyek yang dijalankan, supaya tidak mengancam keberhasilan proyek. Jika semuanya udah selesai maka seorang wirausaha mulai menjalankan proyeknya.
Masaalah yang muncul akibatpengambilan keputusan yang salah diantaranya terjadinya banjir,sebagai contoh kawasan bandung utara yang seharusnya sebagai  resapan air berganti menjadi perumahan.






PENGELOLAAN PERUSAHAAN
Manajemen meliputi perenanaan, pengorganisasian, pengkordinasian, serta pengawasan sumber daya manusia dan sumberdaya materi untuk mencapai tujuan. Pemahaman perusahaan kecil tidak hanya memerlukan suatu pemahamaan tentang teknik-teknik manajemen, seperti yang pada mumnya dilakukan, tetapi juga pengetahuan bidang ainyang berhubungan dengan pelaksanaan manajemen. Pemusatan wewenang pada satu orang wira usaha akan menimbulkan suatu masalah khusus dalam perusahaan kecil. Seorang wira usaha kecil dapat mengatasi masalah ini dengan empelajari keahlian manajemen yang sesuai dengankapasitas perusahaannya.
Seperti yang dikemukakan di atas, seorang wirausaha harus mampu mengelola perusahaannya dari mulai perencanaaan proyek sampai  pembiayaan-pembiayaan yang diperlukan.seorang wirausaha harus bias menerima masukan dari rekan lain. Seorang wirausaha sebelum menentukan satu usulan proyek dari rekan yang lain harus bias menyaring semua masukan, dan disesuaikan juga dengan keterbatasan modal.
Masalah yang timbul biasanya pada perusahaan kecil yang baru berproduksi, biasanya seorang wirausaha memusatkan kekuasaan walaupun sudah terbentuk erbagai bagian sesuai bidangnya. Sedangkan keberhasilan suatu usah sebagian dikarenakan manajemen perusahaannya yang bagus.









MANAJEMEN PEMASARAN
Pengusaha kecil dinegara berkembang seringkali dirinya merasa harus bertahan untuk membuktikan bahwa produknya lebih baik daripaada produk impor, dan produk yang dihasilkan pesaing lain yang lebih besar dan lebih terkenal. Oleh  karena itu seorang wira usaha harus memasarkan produknya dengan gencar dan terus mengikuti pemasaran modern. Orientasi konsumen dan integrasinya dengan kegiatan-kegiatan lain merupakan dua prinsip dasar dalam pemasaran. Seorang perusahaan kecil yang merangkap sebagai manajer pemasaran harus memahami berbagai strategi penetapan harga, karena penetapan harga merupakan keputusan pemasaran yang sangat penting. Biasanya seorang wirausaha tidak langsung menjual pada konsumen, tetapi menggunakan jasa perantara atau distribusi. Seoraang wirausaha juga tidak  boleh mengesampingka usaha promosi terhadaap produknya, dan memberikan pelayanan purna jual, walaaupun usaha itu tampak menguntungkan.
Sedikit tambahan dari penulis tentang manajemen pemasaran, daalam hal ini  penulis menambahkan saran buat pengusaha kecil diadakannya perkumpulan-perkumpulan usaha kecil. Di sana biasa tukar informasi dan strategi dalaampemasaaran sehigga menghasilkan ide-ide baru dalam strategi pemasaaran, selain relevan juga tidak merugikan satu saama lain.
Masalah yang muncul seorang wirausaha tidakmemperhatikan efek-efek yang terjadi kedepannya. Bias diambil contoh misalkan seorang wirausaha yang memasarkan produknya di kaca belakang angkutan umum atau kendaaraan, tanpa sadar itu bias membahayakan keselamatan bagi pengemudi dan para penumpangnya, walaupun cara tersebut sangat strategis bisa dilihat semua orang.







MANAJEMEN PRODUKSI DAN OPERASI
Fungsi produksipada perusahaan manufaktur kecil dapat disamakan dengan kotak hitam kecil yang membutuhkan sejumlah input untuk menghasilkan output. Input meliputi bahan baku, mesin dan peralatan, tenaga kerja,metode dan pasilitas. Sedangkan output berupa barang daan jasa. System produksi yang diggunakaan merupakan hal yang penting bagi pabrikan kaarena kemungkinan besar ia melakukan kesalaha strategi. Dengan mengandalkan persyaratan operasi pabriknya, seorang wirausaha sudah bisa melakukan produksi.
Sebagai seorang wirausaha harus selalu menyediakan sumber-sumber input yang sangat dibutuhkan demi kelangsungan operasi yang menguntungkan. Dalam penentuan produksi sangat bergantung pada jenis, kebutuhan, pasar yang dilayani,jenis produk yang dihasilkan, potensi perusahaaan terhadap  pasar dan perluasan produksi. Namun sebelum mngambil keputusan harus mempertimbangkan terlebih dahulu terhadap daur ulang produk yang diperlukan dan tingkat keterlibatan manusia dalam prose sang digunakan, lokasi pabrik dan tata ruangnya merupakan saalah satu yang penting bagi seorang manajer produksi, selain itu seorang manajer produksi harus menetapkan subsistem produksi.
Masalah yang timbul pada perusahaaan manufactur kecil yang terjadi di wilayah kab sumedang,banyak perusahaan-perusahaan tahu yang pada umumnya memproduksi untuk penjualan di pabrik tersebut juga memproduksi pesanan dari para pedagang. Kurangnya pengenalan teknologi di para pengusaha tahu seolah menjadi dilemma terombang-ambing oleh harga bahan baku dan harga bahan bakar, sehingga untuk bahan bakar kebanyakan menggunakan kayu bakar. Sedangkan kayu bakarsuatu saat pasi akan mengalami kehabisan persediaannya. Penulis mencoba solusikan masalah ini dengan carapemampaatan limbah ampas tahu tersebut untuk dijadikan bahan bakar bio gas, sebagai bahan bakaralternatif untuk mengurang dampak ilegaloging atau pembalakan terhadap  hutan.





MANAJEMEN KEUANGAN
Seorang wirausaha kecil  harus memiliki pemahaman mendasar terhadap konsep pendekatan dan alat-alat manajemen keuangan. Hal itu harus dimilikinya agar ia dapat meningkatkan laba dan menjamin kelangsungan usaha dalam jangka panjang. Alat-alat dasar keuangan itu  terdiri dari akuntansi biaya, penganggaran, dan pengangaran modal. Semua peralatan itu tidak hanya membantu seorang wirausaha dalam mencapai sasaran profitabilias, tetapi juga mempengaruhi perencanaan dan pengambilan keputusan trhadap  masalah-masalah penetapan harga produk, penambahan fasilitas baaru,dan perluasan serta di versifikasi usah. Manajemen yang baik pada dasarnya adalah berupa catatan atau informasi keuangan yang tepat dan memadai. Pencatatan yang baik sangat penting untuk  keberhasilan manajemen dan operasi perusahaan. Catatan ini juga akan membantu proses pengambilan keputusan dan pembuatan laporan pajak pendapatan. Singkatnya seorang wirausaha harus memperhatikan kesukaran-kesukaran dalam manaajemen keuangan khususnya yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan kecil.
Jelas sekali yang dikatakan di atas bahwa manajemen keuangan yang baik adalah catatan atau informasi keuangan yang memadai, sehingga mempermudah dalam proses pengambilan keputusan dan pembuatan laporan pajak pendapaatan.
Seperti yang masalah yang sebelumnya, masaalah ini juga muncul dari perusahaan tahu di  sumedang, khususnya yang penulis ketahi yaitu di wilayah pamulihan dan tanjung sari. Kebanyakan paaraa pengusaaha diumbang – ambing oleh harga baahan baku,danuntuk mendapatkan bahan baku yanf berkualitas baikpara pengusaha maasih bergantung impor dari Negara lain. Dalam hal ini, kenapa pengusaha tersebut tidak berfikir berinvestasi kedepan untuk bisa menanam kedelai sendiri, atau semisal mendirikan suatu perkumpulan atau bisa juga koperasi yang menampung kedelai dari para petani di Indonesia sebagai bahan baku. Sehingga terjadinya kesinambungan lapangan kerja antara pengusaha dan petani.




BAGAIMANA MENGANALISIS PERUSAHAAAN KECIL ANDA?
Seorang wirausaha kecil modern dan berpandangan luas menganalisis usahanya secara berkala untuk memastikan bahwa perusahaannya dalam keadan baaik. Penganalisisan perlu dilakukan bila perusahaaan ingin terus bertahan dan berkembang. Adaa empat analisis yang dilakukan seorang wirausaha,yaitu: analisis rasio keuangan, pendekataan masalaah-masalah utama,titik impas daan ppedman kuesioner. Analisis rasio keuangan mempelajari posisi keuangan perusahan, dan memiliki empat rasio yaitu: rasio likuiditas, leverage,kegiatan dan profibilitas. Pendekatan masaalah-masalah utama bersumber padamesalah pokok yang sering dihadapi oleh perusahaaan kecil. Analisis titik impasa berguna untuk penganalisisan, karena pada titik tersebut keuntungan atau kerugian mulai dapat mempengaruhi cara pengelolaan perusahan.
Seperti yang dikatakan di atas, untuk menganalisis perusahaaan supaya terus bertahan dan berkembang, perlu adanyaa analisis terhadap rasio keuangan, pendekaatan pada masalah-masalah yang utama, titik impas dan kuesioner sehingga terjadi umpan balik terhadap perusahaan.
Masalah yang muncul dari kegiaatan penulis sendiri, penulis mencoba mengembagkan ternak kecil-kecilan.kendala pertama yang dihadapi permodalan untuk  bisa mengembangkan usaha tersebut, yang selanjutnya segi  pemasarannya, karena dari mulai ternak sampai saat ini dari segi pemasaran masih mengandalkan Bandar atau pengumpul untuk penjualannya. Masalah yang kedua penulis juga sebagai pengelola dari sebuah pendidikan anak usia dini di pamulihan,dalam hal ini dari segi manajemen penulis kurang begitu memahami, sehingga kurang terkelola dengan baik.   

Jumat, 08 Juli 2011

PENDIDIKAN PRASEKOLAH


BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan sesuatuyang sangat penting bagi manusia. Melalui pendidikan manusia dapat belajar menghadapi alam semesta demi mempertahankan hidupnya. Secara bahasa pendidikan diartikan sebagai usaha memasukan ilmu pengetahuan dari orang yang dianggap memiliknya kepada orang yang dianggap belum memilikinya. Berdasarkan pengertian ini, maka pendidikan berlangsung dalam tiga proses, yaitu: ilmu, usaha memasukan kepada orang yang dianggap belum memilikinya, dan orang yang dianggap memilikinya[1].
Sedangkan menurut istilah pendidikan diartikan sebagai usaha sadar yang dilakukan orang dewasa kepada mereka yang dianggap belum dewasa. Pendidikan adalah transformasi ilmu pengetahuan, budaya sekaligus nilai-nilai yang berkembang pada suatu generasi, agar dapat di transformasikan kepada generasi berikutnya.
Perkembangan dan dinamika manusia berlangsung di atas hukum alam yang ditetapkan Allah SWT dan kemudian disebut sunnatullah. Akan tetapi proses yang digunakan dalam pendidikan adalah proses yang terarah dan dan bertujuan mengarahkanmanusia(anak didik) kepada titik optimal kemampuannya[2]. Sedangkn tujuan yang hendak dicapai adalah terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh sebagai manusia individual, sosial serta sebagai hamba tuhan yang mengabdikan diri kepada-Nya[3]. Tidak terkecuali pendidikan prasekolah, hal itu disebabkan karena pendidikan prasekolah merupakan dasar atau pondasi seperti yang tercantum dalamtulisan Kasant k kapur pada The Straith Times “ pohon oak yang besar tumbuh dari biji-bijian yang kecil”. Sangat jelas sekali pendidikan usia dini itu sangat membantu pertumbuhan daya kembang seorang anak dan tentunya proses pembelajarannya disesuaikan dengan pendidikan prasekolah.



BAB II
PEMBAHASAN
PENDIDIKAN PRASEKOLAH
(Belajar Adalah Bermain Anak)

   Pendidikan prasekolah merupakan suatu cara untuk menumbuhkan suatu kemandirian dan kebiasaan-kebiasaan yang positif pada perkembangan masa depannya. Dalam artian yang pendek bisa juga sebagai persiapan ketika anak memasuki sekolah dasar, persiapan disini berupa fisik, mental, sosial dsb. Seperti dalam sebuah artikel yang di muat oleh buleti di akademi Amerika yang di tulis oleh Dr. K.R Ginsburg (2007) mengatakan bermain memungkinkan seorang anak untuk berkreatifitas sambil mengembangkan imajinasinya, ketangkasan, kekuatan fisik, dan dengan bermain juga sangat penting untuk perkembangan kesehatan otak dan katanya juga dengan bermain yang diarahkan memungkinkan anak untuk belajar bekerja sama, berbagi, dan merundingkannya.
Mr. S Smilansky (1990) mengatakan bahwa bermain secara langsung berkaitan dengan banyaknya keterampilan yang esensial untuk keberhasilan akademis baik verbal, strategi pemecahan masalah yang baik, tingginya kompetensi intelektual, mempunyai rasa ingin tahu yang lebih, empati, penyesuaian sosial dan emosional, berinovasi yang lebih, berimajinasi yang lebih, dst.
Sangat jelas sekali pendapat diatas, pendidikan prasekolah tidak berfokus kepada anak untuk bisa memahami baca atau tulis saja, yaitu hanya mengarahkan pada kebisaan-kebiasaan yang nantinya akan menjadi suatu kebiasaan ditahapan sekolah berikutnya. Walaupun pendidikan prasekolah menitik beratkan pada orientasi bermain. Seperti pendapat Mr. K. Hirsch-Pasek dan Mr. R.M. golinkoff (2003) menyatakan bermain mengajarkan anak untuk berpikir dan membantu mereka dalam menyelesaikan masalah.
Kata lain dari kedua penulis diatas mengatakan pendidikan prasekolah “ outside box” yaitu dalam artian tidak ada penekanan terhadap anak untuk belajar, tetapi dengan cara anak dibiarkan untuk bermain dan mengekpresikan kreatifitasnya, dan tentunya dalam hal ini tugas seorang pendidik membimbing dan mengarahkannya.
Salah satu majalah di Jerman “Der Spigel” (1997) melakukan suatu perbandingan antara 50 TK yang berorientasi akademis dengan 50 TK yang berorientasi bermain. Ternyata hasil dari perbandingan anak-anak yang berorientasi bermain lebih baik daripada anak-anak yang berorientasi akademis. Dengan hasil itu maka TK di Jerman beralih dari yang berorientasi akademis menjadi yang berorientasi bermain. Hal diatas senada dengan Mr. R.A Marcon (2002) yang menyatakan bahwa anak-anak yang mengikutu program orientasi bermain pada pendidikan pra sekolah dimana anak-anak mendominasi serta bekerja lebih baik secara akademik dibandingkan denga anak-anak yang mengikuti program akademis.
Bandingkan juga dengan pendidikan prasekolah di Singapura, disana ada dua penggabungan antara keduanya, yaitu bermain dan intruksi akademis. Mentri pendidikan singapura mengatakan kegiatan pendidikan prasekolah di singapura meliputi kegiatan pembelajaran yang mengembangkan kemampuan bahas, keaksaraan, konsep-konsep dasar angka, konsep-konsep ilmiah sederhana, keterampilan sosial, apresiasi musik, serta bermain outdor. Dari ungkapan diatas di Singapura pendidikan prasekolah itu ada keseimbangan  diantara keduanya. Senada dengan itu Ms. Lina Ong, pendiri Baby Inc mengatakan” kita mungkin satu-satunya negara di dunia yang mengharuskan anak-anak untuk tahu mengeja dan menfhitung sebelum masuk TK”.
Selain Singapura, Finlandia juga meyakini sebagai negara yang memiliki sistem pendidikan yang baik dan diidentifikasi oleh WEF memiliki perekonomian yang kompetitif. Baru-baru ini tulisan Y.W. Yong. A Chongvilavion dan J.Y Chew berbicara pada pusat penerapan dan kebijakan Singapura “ Anak-anak di Singapura berprasangka mengetahui A B C dan matematika dasar ketika masuk sekolah dasar, anak-anak di Finlandia diharapkan untuk mempelajari dasar membaca, dan matematika hanya ketika masuk sekolah yang komprehensif (usia tujuh tahun). Terbukti,pendidikan prasekolah yang berorientasi di Finlandia tidak berjalan pada kerugian pendidikan dan perekonomianya, tetapi kenyataan sebaliknya WEF memuji Finlandia sebagai “inovasi kebudayaan”.
Tekanan orang tua dikutif sebagai faktor ditempat TK tuntunan pada anak-anak muda disini. Tetapi orang tua mungkin menanggapi apa yang mereka anggap sebagai “pencapaian yang diharapkan” anak-anak ketika mereka memasuki sekolah ideal utama, harus bertahap, masa transisi dari TK sampai sekolah dasar, dengan waktu yang cukup untuk bermain diarahkan selama tahun-tahun sekolah dasar juga. Namun, ini tampaknya tidak terjadi kasus, sebagai serentetan artikel Koran terakhir dan menunjukkan surat-surat.
Salah satu pembaca mengatakan putrinya telah mengambil enam tahun terakhir pemeriksaan dalam 1 primer, lain mencatat : “ Anak-anak ( di SD kelas 1) mendapatkan ton pekerjaan rumah, tes sering, dan ya, daftar pekerjaan rumah untuk liburan juni yang meliputi matematika dan latihan bahasa Inggris, membaca 10 buku cerita, membuat model sekolah, menghasilkan buku kesehatan dan menulis jurnal/ tiga kali seminggu.”
Reporter Tan Dawn Wei dari surat kabar ini melaporkan: hamper setengah (dari 200 murid sekolah dasar yang disurvei ) mengatakan mereka merasa tidak mendapatkan cukup tidur setiap hari, kerjaan rumah dan sekolah adalah alas an utama mereka dikutip untuk berputar diakhir. Ternyata otoritas pendidikan disini berfikir bahwa murid utama lebih rendah harus mendapatkan “ setidaknya delapan jam” tidur sehari, sedangkan Dokter anak merekomendasikan 10-11 jam. Seperti diamati Ms Tan, “kurang tidur dapat mempengaruhi perhatian anak, memori, pengambilan keputusan dan kreativitas”.
Akan muncul bahwa “mengajar kurang, belajar lebih banyak” mengumumkan inisiatif beberapa tahun yang lalu untuk tidak memadai dipraktekkan di sekolah. Seperti hidup kembali terlihat pendidikan Pra-sekolah ai Singapura, juga harus mengurangi “pencapaian yang diharapkan” pada awal sekolah dasar, serta beban kerja sekolah dasar, dan memastikan bahwa ada kelancaran, menyakitkan dan akhirnya lebih produktif transisi ke sekolah dasar.


    


[1] Hasan Langulung,  Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta, Radar Jaya Ofsett,1998.
[2] Drs. H. Sama’un Bakry, M.Ag, MenggagasIlmu Pendidikan Islam, Bandung Pustaka Bani Quraisy, 2005, hlm 31.
[3] H.M. Arifin,Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1994, hlm 11. Dan lihat pula UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3.