Ternak kelinci saat ini sudah menjadi sangat populer di masyarakat, hal ini berkat gencarnya pemberitaan tentang kelinci di media-media cetak, online, maupun televisi beberapa tahun belakangan ini. Semakin banyak "bos-bos" yang tertarik dan sudah menggeluti usaha beternak kelinci.
Jika anda ingin berhasil dalam menjalankan usaha beternak kelinci, maka beberapa pengetahuan dasar tentang beternak kelinci berikut ini wajib untuk diketahui.
1. Cara Merawat Kelinci
Kelinci adalah binatang yang mudah beradaptasi, cara merawat kelinci tidaklah sulit, selama semua kondisi yang diperlukan kelinci kesayangan kita dapat terpenuhi dengan baik, maka kelinci akan hidup dan berkembang dengan sehat. Ketika anda memutuskan untuk memelihara kelinci, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Karena walaupun kelinci adalah binatang yang mudah beradaptasi, kelinci juga termasuk binatang yang mudah stres.
2. Kandang Kelinci
Kandang adalah hal pertama yang harus anda perhatikan (kecuali anda memelihara kelinci hanya beberapa ekor dan membiarkan mereka hidup bebas tanpa kandang). Kandang yang buruk dan tidak nyaman akan membuat kelinci mudah stres dan terkena penyakit. Kandang yang baik haruslah mudah dibersihkan, cukup mendapat sinar matahari, aman dari gangguan predator, mempunyai ukuran yang sesuai dengan besar kelinci, dan terbuat dari bahan yang nyaman untuk kelinci.
3. Makanan Kelinci
Secara umum kebutuhan nutrisi yang diperlukan oleh kelinci untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik adalah protein, karbohidrat, abu, vitamin ( A,B,D,E ), hidrat arang, serat kasar dan lemak. Bagi kelinci yang hidup di alam liar, pemenuhan akan kebutuhan pakan ini tentu tidak begitu masalah. Mereka dapat mencari dan mengatur sendiri keseimbangan makanannya dengan memilih macam-macam pakan yang sudah tersedia di alam. Makanan yang dapat diberikan ke kelinci antara lain adalah hijauan, biji-bijian, hay, umbi-umbian, dan konsentrat.
4. Cara Pemberian Pakan
Perlu diketahui bahwa di alam liar kelinci makan dan tidur sepanjang waktu, jadi tidak ada waktu-waktu tertentu untuk dia mencari makan (sebenarnya lebih aktif mencari makan pada malam hari). Namun buat kelinci peliharaan, tentu hal ini tidak mungkin. Semuanya tergantung kepada kita sebagai pemelihara, baik tidaknya cara pemberian pakan yang kita terapkan akan sangat mempengaruhi kesehatan dari kelinci kesayangan kita. Berdasarkan pengalaman dari beberapa sumber, pemberian pakan secara terjadwal adalah lebih baik ketimbang pemberian pakan yang sekaligus banyak dalam satu waktu.
5. Cara Mengawinkan Kelinci
Kelinci boleh dan bisa dikawinkan jika sudah mencapai usia matang kelamin yang cukup. Usia matang kelamin kelinci berbeda-beda tergantung jenis dan tipe kelinci. Untuk kelinci tipe kecil biasanya usia 4,5 - 5 bulan, untuk kelinci tipe sedang biasanya usia 5,5 - 6,5 bulan, sedangkan untuk kelinci tipe besar bisa dikawinkan setelah berumur diatas 7 bulan (untuk jenis Flemish Giant sebaiknya dikawinkan setelah berumur 10 - 11 bulan).
6. Kehamilan Kelinci
Setelah kelinci berhasil dikawinkan, maka selanjutnya kita perlu memastikan apakah perkawinan tersebut berhasil atau gagal menghasilkan kebuntingan. Setelah anda memastikan bahwa kelinci indukan benar-benar hamil, maka langkah selanjutnya adalah anda perlu memperhatikan asupan makanannya. Kelinci hamil memerlukan makanan yang lebih banyak dari biasanya. Selain untuk menjaga kesehatan induk dan pertumbuhan anak yang dikandungnya, asupan gizi yang baik juga akan menjamin kelinci induk dapat melahirkan dengan lancar tanpa masalah dan anak-anak yang dilahirkan juga sehat.
7. Anak Kelinci
Pada usia kehamilan 29 - 32 hari biasanya induk kelinci sudah melahirkan (biasanya pada malam hari). Anak-anak kelinci dilahirkan dalam keadaan buta, tuli, dan tidak berbulu. Induk kelinci akan menutupi tubuh anak-anaknya dengan bulu dan rumput-rumput kering dalam kotak agar tidak kedinginan.
Pada umur 7 hari, bulu-bulu pada tubuh anak kelinci sudah mulai tumbuh dan matanya juga sudah mulai terbuka. Pada usia 10 - 11 hari, anak-anak kelinci sudah dapat melihat dengan baik. Sejak lahir, induk kelinci akan menyusui anaknya sebanyak 2 kali, yaitu pada pagi hari (sekitar subuh) dan sore hari (sekitar maghrib).
Pada usia 17 - 18 hari, anak-anak kelinci sudah mulai keluar dari kotak. Mereka akan meloncat-loncat, berlari-lari, dan akan berusaha untuk menyusu kepada induknya. Biasanya saat-saat ini akan mengganggu induk kelinci, si induk akan susah untuk makan karena berusaha menghindari anak-anaknya yang memaksa untuk menyusu.
Pada usia 20 - 21 hari, anak-anak kelinci sudah mulai belajar untuk makan. Mereka akan memperhatikan dan mengikuti induknya. Dan 3 sampai 4 hari kemudian, anak-anak kelinci sudah benar-benar bisa makan seperti induknya, namun masih tetap menyusu kepada induknya.
Sumber : Tabos Rabbit
Sabtu, 23 November 2013
Belajar Beternak Kelinci
Sabtu, 05 Oktober 2013
BUDIDAYA UBI CILEMBU
BUDIDAYA UBI CILEMBU
A.
Pembibitan
Tanaman
ubi jalar dapat diperbanyak secara generatif dengan biji dan secara vegetatif
berupa stek batang atau stek pucuk. Perbanyakan tanaman secara generatif hanya
dilakukan pada skala penelitian untuk menghasilkan varietas baru.
1.
Persyaratan Bibit
Bahan
tanaman (bibit) berupa stek pucuk atau stek batang harus memenuhi syarat
sebagai berikut:
- Bibit berasal dari varietas Cilembu ST
- Bahan tanaman berumur 2 bulan atau lebih.
- Bahan tanaman (stek) dapat berasal dari tanaman produksi dan dari tunas-tunas ubi yang secara khusus disemai atau melalui proses penunasan.
- Perbanyakan tanaman dengan stek batang atau stek pucuk secara terus-menerus cenderung menurunkan hasil pada generasi-generasi berikutnya. Oleh karena itu, setelah 3-5 generasi perbanyakan harus diperbaharui dengan cara menanam atau menunaskan umbi untuk bahan perbanyakan.
2.
Penyiapan Bibit
- Pilih tanaman ubi jalar yang sudah berumur 2 bulan atau lebih, pertumbuhannya sehat dan normal tidak terlalu subur.
- Stek dipotong sepanjang 25-30 cm atau 3-4 ruas, diambil dari ujung batang atau cabang dan maksimal 3 stek untuk setiap cabang atau batang bagian tanaman bibit, pemotongan menggunakan pisau yang tajam, dan dilakukan pada pagi
- Setelah dipotong, bibit direndam dalam larutan fungisida dengan konsentrasi 2 g/L larutan selama 5 menit
Pengolahan
Tanah
a)
Penyiapan Lahan Tegalan
- Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar (gulma)
- Olahan tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur sambil membenamkan rumput-rumput liar
- Biarkan tanah kering selama minimal 1 minggu
- Buat guludan-guludan dengan ukuran lebar bawah 60 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antar guludan 70-100 cm, dan panjang guludan disesuaikan dengan keadaan lahan
- Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air.
b)
Penyiapan Lahan Sawah Bekas Tanaman Padi
- Babat jerami sebatas permukaan tanah
- Tumpuk jerami secara teratur menjadi tumpukan kecil memanjang berjarak 1 meter antar tumpukan
- Olah tanah di luar bidang tumpukan jerami dengan cangkul atau bajak, kemudian tanahnya ditimbunkan pada tumpukan jerami sambil membentuk guludan. Ukuran guludan adalah lebar bawah 60 cm, tinggi 40 cm, lebar atas 40 cm ( untuk ukuran guludan dengan jarak antara gulud 100 cm ) sedangkan untuk jarak antar guludan 80 cm digunakan ukuran lebar bawah 50 cm, lebar atas 30 cm, tinggi guludan 30 cm
- Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar guludan. Pembuatan guludan di atas tumpukan jerami atau sisa-sisa tanaman dapat menambah bahan organik tanah yang berpengaruh baik terhadap struktur dan kesuburan tanah sehingga ubi dapat berkembang dengan baik dan permukaan kulit ubi rata. Kelemahan penggunaan jerami adalah pertumbuhan tanaman ubi jalar pada bulan pertama sedikit menguning, namun segera sembuh dan tumbuh normal pada bulan berikutnya.
Bila
jerami tidak digunakan sebagai tumpukan guludan, tata laksana penyiapan lahan
sebagai berikut :
- Babat jerami sebatas permukaan tanah
- Singkirkan jerami ke tempat lain untuk dijadikan bahan kompos
- Olah tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur
- Biarkan tanah kering selama minimal satu minggu
- Buat guludan-gululudan berukuran lebar bawah ±60 cm, tinggi 35 cm dan jarak antar guludan 80-100 cm.
- Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar guludan.
Hal
yang penting diperhatikan dalam pembuatan guludan adalah ukuran tinggi tidak
melebihi 40 cm. Guludan yang terlalu tinggi cenderung menyebabkan terbentuknya
ubi berukuran panjang dan dalam sehingga menyulitkan pada saat panen.
Sebaliknya, guludan yang terlalu dangkal dapat menyebabkan terganggunya
pertumbuhan atau perkembangan ubi, dan memudahkan serangan hama boleng Cylas sp.
Teknik
Penanaman
- Penanaman ubi jalar di lahan kering dilakukan pada awal musim hujan (Oktober), atau awal musim kemarau (Maret) bila keadaan cuaca normal. Dilahan sawah, waktu tanam yang paling tepat adalah segera setelah padi rendengan atau padi gadu, yakni pada awal musim kemarau
- Penanaman stek dilakukan pagi hari, setelah direndam dalam larutan fungisida, stek sebaiknya searah ( menghadap ke timur ) agar pertumbuhan tanaman menjadi searah
- Stek ditanam miring pada guludan, dengan 1/2-2/3 bagian masuk ke dalam tanah. Jarak tanam 30-40 cm
- Pada tiap bedengan ditanam 2 deretan dengan jarak kira-kira 30-40 cm.
Pemeliharaan
Tanaman
1.
Penyulaman
Selama
3 (tiga) minggu setelah ditanam, penanaman ubi jalar harus diamati kontinu,
terutama bibit yang mati atau tumbuh secara abnormal. Bibit yang mati harus
segera disulam. Cara menyulam adalah dengan mencabut bibit yang mati, kemudian
diganti dengan bibit yang baru. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau
sore hari, pada saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu tidak terlalu
panas. Bibit (setek) untuk penyulaman sebelumnya dipersiapkan atau ditanam
ditempat yang teduh.
2.
Penyiangan
Pada
sistem tanam tanpa mulsa jerami, lahan biasanya mudah ditumbuhi rumput liar
(gulma) yang merupakan pesaing dalam pemenuhan kebutuhan akan air, unsur hara,
dan sinar matahari. Oleh karena itu, gulma harus segera disiangi. Bersamaan
dengan penyiangan dilakukan pembumbunan, yaitu menggemburkan tanah guludan,
kemudian ditimbunkan pada guludan tersebut.
Pengendalian
gulma dilakukan secara manual menggunakan kored dan cangkul pada umur 2 minggu
setelah tanam (MST), 5 MST, dan 8 MST atau dilakukan tergantung dari keadaan
rumput
Tata
cara penyiangan dan pembumbunan sebagai berikut:
- Bersihkan rumput liar (gulma) dengan kored atau cangkul secara hati-hati agar tidak merusak akar.
- Gemburkan tanah disekitar guludan dengan cara memotong lereng guludan, kemudian tanahnya diturunkan ke dalam saluran antar guludan.
- Timbunkan kembali tanah ke guludan semula, kemudian lakukan pengairan hingga tanah cukup basah
3.
Pemupukan
Pemupukan
bertujuan menggantikan unsur hara yang terangkut saat panen, menambah kesuburan
tanah, dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Sebaiknya lahan dipupuk dengan
pupuk organik baik pepuk kandang maupun kompos dengan dosis 10.000 - 20.000
ton/ha. Dosis pupuk yang tepat harus berdasarkan hasil analisis tanah atau
tanaman di daerah setempat. Sebagai acuan dosis pupuk/ha yang dianjurkan adalah
:
-
100 kg N ( ± 200-250 kg Urea)
-
50 Kg P2O5 (± 100-150 kg TSP/SP-36)
-
200 kg K2O (± 300-350 kg KCL)
Pemberian
pupuk dilakukan dalam larikan dengan jarak garitan 10 cm dari lubang setek
sedalam 5 cm. Waktu pemupukan sebagai berikut:
-
Saat tanam : Urea diberikan 1/3 takaran, SP-36, KCL diberikan seluruhnya pada
saat tanam.
-
Umur 6 minggu setelah tanam ; Urea 1/3 dari takaran
-
Umur 12 minggu setelah tanam ; Urea 1/3 dari takaran
4.
Pembalikan batang dan pucuk
Pembalikan batang dan pucuk bertujuan untuk meningkatkan hasil
umbi, pembalikan dan pengangkatan batang dilakukan tiap 3 minggu sekali, sebab
pada tanaman yang pertumbuhannya subur dalam waktu satu bulan akan menjalar
sepanjang 1-1,5 m. Bila batang terus dibiarkan menjalar di atas tanah dengan
segera akan tumbuh akar di ketiak-ketiak daun. Akar akan membentuk umbi-umbi
kecil yang mengurangi cadangan makanan bagi umbi di batang utama. Pembalikan
batang dimaksudkan untuk mematikan akar yang tumbuh pada ketiak daun.
5.
Pemangkasan
Tanaman yang terlalu subur perlu dipangkasan sebab tanaman yang
daunya terlalu rimbun akan mengurangi hasil umbi. Pemangkasan dilakukan dengan
menggunakan pisau tajam. Mengenai berapa daun yang harus dibuang tidak bisa
ditentukan kapasitasnya karena sangat tergantung pada keadaan tanaman. Pemangkasan
dilakukan pada sulur-sulur yang merayap dalam saluran di sela-sela bedengan.
Hasil pemangkasan dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak.
6.
Pengairan dan Penyiraman
Meskipun
ubi jalar tahan kekeringan, fase awal pertumbuhan memerlukan air tanah yang
memadai.
- Seusai tanam, guludan diairi selama 15-30 menit hingga tanah cukup basah, kemudian airnya dibuang.
- Pengairan berikutnya masih diperlukan secara kontinu hingga tanaman berumur 1-2 bulan.
- Pada periode pembentukan dan perkembangan ubi, yaitu umur 2-3 minggu sebelum panen, pengairan dikurangi atau dihentikan.
- Waktu pengairan yang paling baik pagi atau sore hari.
- Di daerah yang sumber airnya memadai, pengairan dapat dilakukan kontinu seminggu sekali. Hal yang penting diperhatikan dalam pengairan adalah menghindari agar tanah tidak terlalu becek (air menggenang).
PENGENDALIAN
HAMA DAN PENYAKIT
A.
Hama
a)
Penggerek Batang Ubi Jalar
Stadium hama yang merusak tanaman ubi jalar adalah larva (ulat).
Cirinya adalah membuat lubang kecil memanjang (korek) pada batang hingga ke
bagian ubi. Di dalam lubang tersebut dapat ditemukan larva (ulat). Gejala:
terjadi pembengkakan batang, beberapa bagian batang mudah patah, daun-daun
menjadi layu, dan akhirnya cabang-cabang tanaman akan mati. Pengendalian: (1)
rotasi tanaman untuk memutus daur atau siklus hama; (2) pengamatan tanaman pada
stadium umur muda terhadap gejala serangan hama: bila serangan hama >5%,
perlu dilakukan pengendalian secara kimiawi; (3) pemotongan dan pemusnahan
bagian tanaman yang terserang berat; (4) penyemprotan insektisida yang mangkus
dan sangkil, seperti Curacron 500 EC atau Matador 25 dengan konsentrasi yang
dianjurkan.
b)
Hama Boleng atau Lanas
Serangga dewasa hama ini (Cylas formicarius Fabr.) berupa
kumbang kecil yang bagian sayap dan moncongnya berwarna biru, namun toraknya
berwarna merah. Kumbang betina dewasa hidup pada permukaan daun sambil
meletakkan telur di tempat yang terlindung (ternaungi). Telur menetas menjadi
larva (ulat), selanjutnya ulat akan membuat gerekan (lubang kecil) pada batang
atau ubi yang terdapat di permukaan tanah terbuka. Gejala: terdapat
lubang-lubang kecil bekas gerekan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan
berbau menyengat. Hama ini biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang sudah
berubi. Bila hama terbawa oleh ubi ke gudang penyimpanan, sering merusak ubi
hingga menurunkan kuantitas dan kualitas produksi secara nyata. Pengendalian:
(1) pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis tanaman yang tidak sefamili
dengan ubi jalar, misalnya padi-ubi jalar-padi; (2) pembumbunan atau penimbunan
guludan untuk menutup ubi yang terbuka; (3) pengambilan dan pemusnahan ubi yang
terserang hama cukup berat; (4) pengamatan/monitoring hama di pertanaman ubi
jalar secara periodik: bila ditemukan tingkat serangan > 5 %, segera
dilakukan tindakan pengendalian hama secara kimiawi; (5) penyemprotan
insektisida yang mangkus dan sangkil, dengan konsentrasi yang dianjurkan; (6)
penanaman jenis ubi jalar yang berkulit tebal dan bergetah banyak; (7)
pemanenan tidak terlambat untuk mengurangi tingkat kerusakan yang lebih berat.
c)
Tikus (Rattus rattus sp)
Hama tikus biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang berumur cukup tua
atau sudah pada stadium membentuk ubi. Hama Ini menyerang ubi dengan cara
mengerat dan memakan daging ubi hingga menjadi rusak secara tidak beraturan.
Bekas gigitan tikus menyebabkan infeksi pada ubi dan kadang-kadang diikuti
dengan gejala pembusukan ubi. Pengendalian: (1) sistem gerepyokan untuk
menangkap tikus dan langsung dibunuh; (2) penyiangan dilakukan sebaik mungkin
agar tidak banyak sarang tikus disekitar ubi jalar; (3) pemasangan umpan
beracun, seperti Ramortal atau Klerat.
B.
Penyakit
a)
Kudis atau Scab
Penyebab: cendawan Elsinoe batatas. Gejala: adanya benjolan pada
tangkai serta urat daun, dan daun-daun berkerut seperti kerupuk. Tingkat
serangan yang berat menyebabkan daun tidak produktif dalam melakukan
fotosintesis sehingga hasil ubi menurun bahkan tidak menghasilkan sama sekali.
Pengendalian: (1) pergiliran/ rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup
penyakit; (2) penanaman ubi jalar bervarietas tahan penyakit kudis, seperti
daya dan gedang; (3) kultur teknik budi daya secara intensif; (4) penggunaan
bahan tanaman (bibit) yang sehat.
b)
Layu fusarium
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum, F. batatas. Gejala: tanaman
tampak lemas, urat daun menguning, layu, dan akhirnya mati. Cendawan fusarium
dapat bertahan selama beberapa tahun dalam tanah. Penularan penyakit dapat
terjadi melalui tanah, udara, air, dan terbawa oleh bibit. Pengendalian: (1)
penggunaan bibit yang sehat (bebas penyakit); (2) pergiliran /rotasi tanaman
yang serasi di suatu daerah dengan tanaman yang bukan famili; (3) penanaman
jenis atau varietas ubi jalar yang tahan terhadap penyakit Fusarium.
c)
Virus
Beberapa jenis virus yang menyerang tanaman ubi jalar adalah Internal
Cork, Chlorotic Leaf Spot, Yellow Dwarf. Gejala: pertumbuhan batang dan daun
tidak normal, ukuran tanaman kecil dengan tata letak daun bergerombol di bagian
puncak, dan warna daun klorosis atau hijau kekuning-kuningan. Pada tingkat
serangan yang berat, tanaman ubi jalar tidak menghasilkan. Pengendalian: (1)
penggunaan bibit yang sehat dan bebas virus; (2) pergiliran/rotasi tanaman
selama beberapa tahun, terutama di daerah basis (endemis) virus; (3)
pembongkaran/eradikasi tanaman untuk dimusnahkan.
d)
Penyakit Lain-lain
Penyakit-penyakit yang lain adalah, misalnya, bercak daun cercospora
oleh jamur Cercospora batatas Zimmermann, busuk basah akar dan
ubi oleh jamur Rhizopus nigricans Ehrenberg, dan klorosis daun oleh
jamur Albugo ipomeae pandurata Schweinitz. Pengendalian: dilakukan
secara terpadu, meliputi perbaikan kultur teknik budi daya, penggunaan bibit
yang sehat, sortasi dan seleksi ubi di gudang, dan penggunaan pestisida
selektif.
PANEN
1.
Ciri dan Umur Panen
Tanaman ubi jalar dapat dipanen bila ubi-ubinya sudah tua (matang
fisiologis). Ciri fisik ubi jalar matang, antara lain: bila kandungan tepungnya
sudah maksimum, ditandai dengan kadar serat yang rendah dan bila direbus
(dikukus) rasanya enak serta tidak berair. Penentuan waktu panen ubi jalar
didasarkan atas umur tanaman. Jenis atau varietas ubi jalar berumur pendek
(genjah) dipanen pada umur 3-3,5 bulan, sedangkan varietas berumur panjang
(dalam) sewaktu berumur 4,5-5 bulan. Panen ubi jalar yang ideal dimulai pada
umur 3 bulan, dengan penundaan paling lambat sampai umur 4 bulan. Panen pada
umur lebih dari 4 bulan, selain resiko serangan hama boleng cukup tinggi, juga
tidak akan memberikan kenaikan hasil ubi.
2.
Cara Panen
Tata
cara panen ubi jalar melalui tahapan sebagai berikut:
- Tentukan pertanaman ubi jalar yang telah siap dipanen.
- Potong (pangkas) batang ubi jalar dengan menggunakan parang atau sabit, kemudian batang-batangnya disingkirkan ke luar petakan sambil dikumpulkan.
- Galilah guludan dengan cangkul hingga terkuak ubi-ubinya.
- Ambil dan kumpulkan ubi jalar di suatu tempat pengumpulan hasil.
- Bersihkan ubi dari tanah atau kotoran dan akar yang masih menempel.
- Lakukan seleksi dan sortasi ubi berdasarkan ukuran besar dan kecil ubi secara terpisah dan warna kulit ubi yang seragam. Pisahkan ubi utuh dari ubi terluka ataupun terserang oleh hama atau penyakit.
- Masukkan ke dalam wadah atau karung goni, lalu angkut ke tempat penampungan (pengumpulan) hasil.
PASCAPANEN
1.
Pengumpulan
Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah
dijangkau oleh angkutan. Pemilihan atau penyortiran ubi jalar dapat dilakukan
pada saat pencabutan berlangsung atau setelah semua pohon dicabut dan ditampung
dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi berdasarkan warna
kulit umbi kecacatan, ukuran umbi, bentuk serta bercak hitam/garis- garis pada
daging umbi.
2.
Penyimpanan
Penyimpanan ubi jalar cilembu selain ditujukan untuk mempertahankan daya
simpan, juga bertujuan agar umbi lebih manis. Penyimpanan ubi yang paling baik
dilakukan dalam pasir atau abu dengan cara sebagai berikut:
- Angin-anginkan ubi yang baru dipanen di tempat yang berlantai kering selama 2-3 hari.
- Siapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau gudang yang kering, sejuk, dan peredaran udaranya baik.
- Tumpukkan ubi di lantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu setebal 20-30 cm hingga semua permukaan ubi tertutup. Cara penyimpanan ini dapat mempertahankan daya simpan ubi sampai 5 bulan. Ubi jalar yang mengalami proses penyimpanan dengan baik biasanya akan menghasilkan rasa ubi yang manis dan enak bila dibandingkan dengan ubi yang baru dipanen. Hal yang penting dilakukan dalam penyimpanan ubi jalar adalah melakukan pemilihan ubi yang baik, tidak ada yang rusak atau terluka, dan tempat (ruang) penyimpanan bersuhu rendah antara 27-300C (suhu kamar) dengan kelembapan udara antara 85-90%.
- Penyimpanan juga dapat dilakukan pada rak-rak atau menghindari penyimpanan umbi di lantai secara langsung atau dalam keranjang bambu dengan alas berupa abu atau pasir kering dan Penyimpanan ubi pada para-para ( rak bambu ) yang diletakan dekat dapur
Langganan:
Postingan (Atom)