Perbandingan akhlaq anak lulusan Madrasah
Ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusan Sekolah Dasar di MTs Negeri Pamulihan
A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah mahluk yang diciptakan oleh Allah SWT sempurna, selain
keaneka ragaman corak, budaya, bahasa, suku bangsa, warna kulit, dan juga
dilengkapi dengan pikiran yang berfungsi sebagai alat berpikir. Setiap manusia
memiliki potensi-potensi yang tersimpan dalam jiwa manusia, diantaranya:
manusia sebagai mahluk sosial, manusia sebagai mahluk susila, manusia mahluk
yang berkeinginan memiliki, mencintai, menguasai, dan di samping itu juga
manusia memiliki fitrah yang positif untuk mengajak kepada ajaran kebaikan.
Hakikat manusia sekilas saja kita
ketahui, bahwa tugas hidup manusia sebelum menjadi hamba allah yang shaleh dan
mampu menjadi wakil tuhan (kholifah) dimuka bumi ini tentu harus di mulai
dengan belajar atau menuntut ilmu, yaitu melalui jalur pendidikan.
Islam menempatkan pendidikan sebagai
salah satu yang esensial dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan manusia
dapat membentuk keperibadian, selain itu melalui pendidikan manusia dapat
memahami dan menterjemaahkan lingkungan yang dihadapi, sehingga dapat
menciptakan suatu karya yang gemilang melalui penelaahan terhadap alam sekitar,
yang diperoleh dengan proses pendidikan. Dengan proses pendidikan manusia dapat
menghasilkan ilmu pengetahuan.
Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang
menjadikan pedoman umat islam yang mengharuskan umatnya untuk mendalami dan
mengembangkasn ilmu pengetahuan. Secara teoritis, ilmu pengetahuan yang
dimiliki manusia tidak muingkin dimilikinya tanpa adanya proses pendidikan.
Sedangkan pendidikan sendiri dapat
dikasih makna sebagai usaha memasukan ilmu pengetahuan dari orang yang dianggap
memilikinya kepada mereka yang dianggap belum memillikinya. Berdasaarkan
pengertian ini maka pendidikan berlangsung dalam tiga proses, proses itu
adalah: ilmu, usaha memasukannya kepada mereka yang belum memilikinya, dan
orang yang dianggap memiliki ilmu(Hasan Langulung, 1988:44)
Dalam segi istilah pendidikan adalah
suatu usaha sadar yang dilakukan orang dewasa kepada mereka yang dianggap belum
dewasa. Pendidikan adalah transformasi ilmu pengetahuan, budaya, sekaligus
nilai-nilai yang berkembang pada satu generasi agar dapat ditransformasikan
pada generasi berikutnya, Dalam pengertian ini, pendidikan tidak hanya
mentrasformasikan ilmu, melainkan budaya dan nilai-nilai yang berkembang di
masyarakat. Pendidikan adalah suatu proses yang menyangkut: 1) proses
transformasi informasi (proses pembelajaran), 2) perkembangan pribadi, 3)
interaksi sosial, dan 4) modifikasi tingkah laku
( Moh Uzer
Usman, 1992:1)
Dengan pendidikan manusia bisa
bersikap lebih dewasa, berpengengetahuan dan bijaksana, kehidupan lebih terarah
dan berkepribadian yang dibekali dengan keterampilan, sehingga memberikan atau
berpeluang untuk sehat baik jasmani maupun rohani dan menciptakan manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Serta terciptanya tujuan yang
diharapkan sesuai dengan tujuan yang diarahkan
kepada manusia sebagai mahluk sosial secara menyeluruh, bukan berarti
dalam satu lingkungan secara sempit melaunkan secara nasional sesuai dengan
UUNomor 12 Tahun 1989 Bab II Pasal 4.
Pendidikan
nasional bertujuan untuk mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia
seutuhnya, yaitu manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang
Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetehuan dan keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, keperibadian yang mantap dan mandiri serta
bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (UU. Sistem Pendidikan
Nasional, 1995:4)
UU diatas menjelaskan bahwa
pembangunan nasional bertujuan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya.
Dalam pencapaian tujuan itu tidak lepas dari peran serta pendidikan. Peran serta
pendidikan merupakan upaya untuk terciptanya kualitas sumberdaya
manusia(Hartono dan Azis, 1993:120).
Dewasa ini bangsa Indonesia tengah
dilanda krisis keterpurukan dalam berbagai bidang baik material, spiritual, akhlak.
Oleh karena itu perlu adanya dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkannya.
Salah satunya melalui jalur pendidikan sebagai salah satu untuk terciptanya
sumber daya manusia yang baik. Seperti tertuang dalam UU Nomor 20 Tahun 2003
Pasal 1 Ayat (1) sebagai arti dari pendidikan, yaitu:
Usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana proses belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian, keperibadian diri, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan Negara.
( UU Sisdiknas
Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat(1)).
Dari
UU diatas aspek yang harus paling disoroti disini yaitu akhlak mulia, akhlak
yang terpenting dimiliki oleh setiap manusia, akhlaq yang baik menggambarkan
keperibadian manusia yang baik, karena akhlaq manusia bisa bersosialisasi dengan
orang lain. Penjabaran UU diatas selain kecerdasan, keperibadian, keterampilan,
spiritual keagamaan yang baik yaitu akhlak mulia.
Pembinaan
akhlak harus dimulai semenjak dini, karena pendidikan akhlaq diusia kanak-kanak
itu lebih efisien dan supaya mereka terbiasa. Selain itu berakhlak mulia juga sebagai
bekal si anak supaya bisa bersosialisasi dengan baik di waktu dewasa bahkan
sebagai bekal untuk bermasyarakat.
Di
negara Indonesia ada dua institusi pendidikan, yang pertama dibawah Kementrian
pendidikan dan yang kedua dibawah Kementrian Agama. Yang berada dibawah
institusi kementrian pendidikan diantaranya: TK, SD, SMP, SMU. Dan yang berada
dibawah institusi kementrian agama yaitru: RA, MI, MTs, MA. Kedua institusi
diatas merupakan suati permasalahan yang menarik untuk penilis teliti, yaitu
sejauh mana perbandingan akhlak dari kedua institusi tersebut.
Akhlaq
anak sehari-hari merupakan cerminan akhlaq buat generasi yang akan datang,
bahkan suatu negara akan maju disebabkan oleh sumber daya manusianya yang
berakhlaq baik, dan sebaliknya negara hancur disebabkan oleh akhlaq manusianya
yang jelek. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut
tentang masalah ahlak tersebut. Dan karma luasnya masalah yang diteliti, maka
penulis membatasi penelitian masalah tersebut di anak MTs. Yang mana di MTs
tersebut ada anak lulusan dari Madrasah Ibtidaiyah dan Anak yang lulusan dari
Sekolah Dasar. Maka peneliti bermaksud untuk mengangkat judul “Perbandingan Ahlak Anak lulusan Madrasah
Ibtidaiyah dengan akhlak anak lulusan sekolah dasar ” di MTs Negeri
Pamulihan Sumedang
B. Rumusan Masalah
dari latar belakang masalah diatas maka dirimuskan melalui
pertanyaan-pertanyaan berikut:
- Bagaimana akhlaq anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah di MTs Negri Pamulihan Sumedang
- Bagaimana akhlaq anak lulusan Sekolah Dasar di MTs Negri Pamulihan Sumedang
- Bagaimana perbandingan akhlaq anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusan Sekolah Dasar di MTs Negri Pamulihan Sumedang
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1.
Untuk mengetahui ahlak anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah
di MTs Negri Pamulihan Sumedang
2.
Untuk mengetahui ahlak anak lulusan Sekolah Dasar di
MTs Negri Pamulihan Sumedang
3.
Untuk mengetahui perbandingan akhlaq anak lulusan
Madrasah Ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusa Sekolah Dasar di MTs Negri
Pamulihan Sumedang
D. Kerangka Penelitian
Akhlaq adalah tingkahlaku
yang di pengaruhi oleh nilai-nilai yang di yakini oleh seseorang dan sikap
menjadi kebahagiaan dari pada kepribadian nilai dan sikap itu pula terpancar
dari pada konsep dan gambarannya terhadap hidup. Dengan kata lain, nilai-nilai
dan sikap terpancar dari akidahnya yaitu gambaran tentang kehidupan yang di
pegang dan di yakini.
Ahmad Amin(1975)
mendefinisikan sesuatu yang mencirikan akhlak itu adalah yang di biasakan
maksudnya, sesuatu yang mencirikan akhlaq itu kehendak yang di biasakan artinya
kehendak itu membiasakan sesuatu, maka kebiasan itu dinamakan akhlak. Ahmad
Amin juga menjelaskan arti kehendak, yaitu ketentuan dari beberapa keinginan
manusia. Sedangkan kebiasaan ialah perbuatan yang di ulang-ulang sehingga mudah
melakukannya. Maka dari itu kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan
kearah menimbulkan apa yang di sebut dengan akhlak.
Tidak sedikit yang terjadi
dalam praktek kehidupan, akhlak sangat menunjang untuk kelangsungan hidup
sehari-hari, karena akhlaq juga manusia bisa berinteraksi sesama manusia, dan
karena akhlak juga manusia bias saling memusuhi. Maka penerapan akhlak sangat
penting dalam kehidupan. Untuk menumbuhkan suatu akhlaq yang baik perlu di
tanamkan semenjak anak-anak, agar menjadi kebiasaan yang bisa di lakukan. Lebih
tepat nya ditanamkan dari usia sekolah dasar karena seusia ini anak sudah bisa
bersosialisasi dengan temannya.
Imam Ghazali menyebutkan
akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa. Dari pada jiwa itu, timbul
perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melakukan pertimbangan. Akhlak adalah
suatu daya yang bersemi dalam jiwa seseorang hingga dapat menimbulkan
perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa dipikir atau direnungkan lagi
(AT-Taripah : 90)
Anak di seusia Sekolah
Dasar / Madrasah Ibtidaiyah kecenderungan mendidik akhlak itu sangat besar
dikarenakan anak seusia itu masih terbiasa dengan lingkungan yang beraneka
ragam dan sianak sendiri masih belum punya esensi buat kedepan. Sedangkan untuk
mengetahui akhlaq anak dalam kehidupan sehari-hari maka harus jelas dulu
indikator-indikatornya. Adapun indikatornya yang harus diteliti diantaranya :
1.
Akhlak anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah
a.
Akhlak terhadap Allah
b.
Akhlak terhadap sesama manusia
c.
Akhlak terhadap sesama mahluk ciptaan Allah
d.
Akhlak terhadap alam sekitar
e.
Akhlak terhadap diri sendiri
2.
Akhlak anak lulusan Sekolah Dasar
a.
Akhlak terhadap Allah
b.
Akhlak terhadap sesama manusia
c.
Akhlak terhadap sesama mahluk ciptaan Allah
d.
Akhlak terhadap alam sekitar
e.
Akhlak terhadap diri sendiri
Dari Uraian
Kerangka pemikiran yang di jelaskan tersebut secara skematis dapat di gambarkan
sebagai berikut.
Perbandingan
|
Akhlak anak
lulusan Madrasah
Ibtidaiyah
|
Akhlak anak
lulusan Sekolah Dasar
|
Responden
|
E. Hipotesis
Dari
arti katanya, hipotesis memang dari dua penggalan kata Hypo yang artinya di
bawah dan Thesa yang artinya kebenaran. Jadi hipotesis yang kemudian cara
menulisnya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia menjadi hipotesis dan
berkembang menjadi hipotesis.
Sanafiah
faisal (1982:62) mengemukakan bahwa hipotesis merupakan suatu keterangan
sementara terhadap permasalahan yang di pertanyakan, Good dan scates (1954)
menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang di
rumuskan serta di terima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta
yang di amati ataupun kondisi-kondisi yang di amati dan di gunakan untuk
langkah-langkah selanjutnya.
Adapun
kegunaan hipotesis menurut Arif Furchon (1982:126) sebagai berikut ;
- Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan suatu bidang
- Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat di uji dalam penelitian
- Hipotesis memberikan kearah penelitian
- Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan
Menuru
pendapat Klinger (1973) yang dikutip oleh Moh. Nazer (2003:151) menyatakan
hipotesis adalah pernyataan yang bersifat tekaan dari hubungan antara dua
variable atau lebih.
Bertitik
tolak dari kerangka penelitian ini akan memusatkan perhatiannya kepada keterkaitan
dua variable yaitu akhlaq anak lulusan madrasah ibtidaiyah sebagai variable X
dan akhlaq anak lulusan sekolah dasar sebagai variable Y. dengan menyoroti
kenyataan yang melibatkan anak lulusan madrasah ibtidaiyah dan anak lulusan
sekolah dasar di MTs Negeri Pamulihan. Penulis dapat menyatakan hipotesis
secara teritorial anak lulusan madrasah ibtidaiyah lebih bagus akhlaqnya di
banding akhlaq anak lulusan sekolah dasar. Berdasarkan data yang terkumpul
peneliti akan menguji apakah hipotesis yang di rumuskan dapat naik setatus jadi
teas, atau sebaliknya tumbang sebagai hopitesis, apa bila ternyata tidak
terbukti
Untuk
menguji hipotesis akan di analisis secara korelasi, yaitu dengan menguji
hipotesis nol(Ho) yang menyatakan ada perbedaan yang signifikan antara akhlaq
anak lulusan madrasah ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusan sekolah dasar di
MTs Negeri Pamulihan sumedang, dan hipotesis alternative(Ha) menyatakan tidak
ada perbedaan yang signifikan antara akhlaq anal lulusan madrasah ibtidaiyah
dengan akhlaq anak lulusan sekolah dasar. Prinsif pengujian bertolak dati tarif
signifikasi 5% penulis membandingkan harga T hitung > T table, maka
hipotesis nol(Ho) dinyatakan ditolak dan hipotesis alternatif(Ha) diterima.
Sebaliknya jika t hitung < T table, maka hipotesis nol (Ho) diterima, dan
hipotesis alternatif ditolak.
F. Langkah-Langkah Penelitian
Langkah-langkah
yang dilakuan peneliti adalah sebagai berikut
- Jenis Data
secara garis besar data yang dikumpulkan dapat
dikelasifikasikan kedalam dua jenis, yaitu data kualitatif dan kuantitatif.
Data kualitatif adalah data yang digambarkan dengan kata-kata yang akan
dikumpulkan melalui teknik obsevasi dan wawancara. Sedangkan data kuantitatif
data yang berwujud angka-angka hasi; pengukuran atau perhitungan yang diperoleh
melalui angket.
- Sumber Data
a. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi di MTs
Negeri Pamulihan Kecamatan Pamulihan Sumedang. Karena di lokasi ini memudahkan
penulis untuk mendapatkan data yang di perlukan dan mudah dijangkau penulis.
b. Menentukan populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi
Arikunto 1998 : 45). Populasi adalah penelitian ini di tujukan kepada seluruh
siswa di MTs Negeri Pamulihan, menurut kepala madrasah Tsanawiyah Negeri
Pamulihan jumlah siswa di MTs Negeri Pamulihan adalah 328 Siswa jumlah anak
yang lulusan dari madrasah ibtidaiyah hanya sebgaian kecilnya dari jumlah anak
yang tadinya lulusan dari sekolah dasar. Jumlahnya sebagai berikut lulusan SD
314 anak, lulusan MI 14 anak.
TABEL 1
DATA SISWA MENURUT ASAL SEKOLAH
TAHUN PELAJARAN 2010/2011
No
|
Kelas
|
SD
|
MI
|
Jumlah
|
1
|
VII
|
108
|
6
|
114
|
2
|
VIII
|
93
|
7
|
100
|
3
|
IX
|
113
|
1
|
114
|
Jumlah
|
314
|
14
|
328
|
|
c. Menentukan Sampel
Sampel adalah sebagaian atau wakil dari populasi yang
di teliti (Suharsimi Arikunto 1998 : 45) yaitu :
Untuk sekedar ancer-ancer, maka apa bila subjeknya
kurang dari 100 lebih baik di ambil semua, shingga penelitian merupakan
penelitian populasi selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat di ambil
10-15% atau 20-25% atau lebih bergantung kemampuan peneliti, wilayah peneliti
dan besar kecilnya resiko peneliti.
Berdasarkan penelitian diatas. Maka penulis mengabil
jumlah keseluruhan dari anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah dan mengambil sebagian
dari jumlah anak lulusan sekolah dasar untuk di lakukan penelitian.
- Metode Penelitian
Agar penelitian ini dapat berlangsung secara terarah dan
efektif maka pendekatan umunya dapat dilakukan dengan pendekatan kuantitatif
dengan metode deskristif. Yaitu metode yang menuju kepada pemecahan masalah
yang ada pada masa sekarang, lebih dai itu ketetapan memilih metode ini
didasarkan atas pendapat Muhamad Ali (1987 : 120) yang meyatakan :
Metode deskristif digunakan untuk berupaya memecahkan atau
menjawab permasalahan yang sedang di hadapi pada situasi sekarang dilakukan
dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan klasifikasi dan analisis /
pengolahan data membuat penggambaran tentang sesuatu keadaan secara objektif
dalam situasi deskristif situasi.
Sedangkan menurut (Moh. Nazir, 1999:63) metode deskriftif
yaitu suatu metode dalam meneliti suatu kelompok manusia, suatu objek, suatu
set kondisi, suatu system pemikiran maupun suatu kelas peristiwa pada masa
sekarang yang bertujuan untuk membuat gambaran atau lukisan secara sistematis,
actual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar
fenomena yang diselidiki. Penulis memilih metode ini karena dengan pertimbangan
bahwa penelitian yang penulis lakukukantidak hanya sebatas kesimpulan
mengumpulkan data melainkan dengan pengolahan pengambilan kesimpulan yang
dilengkapi dengan perhitungan statistik.
- Teknik Pengumpulan Data
Dalam
mengatisipasi masalah pengumpulan data penulis berketepatan untuk memanfaatkan
teknik-teknik observasi, interview, teknik angket, dan studi dokumentasi.
Rencana penempatan ke empat teknik tersebut dapat di uraikan sebagai berikut :
a. Observasi
Observasi adalah teknik penumpulan data dimana penyelidik mengadakan
pengamatan secara langsung (tanpa alat) terhadap gejala-gejala yang di teliti
(Surahmad, 1982 : 155).teknik ini di gunakan mengingat di duga terdapat
sejumlah data yang hanya dapat terangkat dengan menggunakan teknik observasi
meliputi gambaran umum madrasah Tsanawiyah, kelangsungan proses kegiatan
belajar mengajar di Tsanawiyah, interaktif siswa dengan guru dan antara siswa
b. Interview
Interview adalah sebuah teknik pengumpulan data yang menghendaki
komunikasi langsung antara penyelidik dengan subyek sampel, sebagai mana di
kemukakan Sutrisni Hadi (1986 : 192) bahwa :
Suatu proses
Tanya jawab lisan dalam nama dua orang atau lebih berhadapan secara fisik, yang
satu dapat melihat yang lain dapat mendengarkan dengan telinga
sendiri-sendirinya tampaknya merupakan alat pengumpulan informasi yang
berlangsung tentang beberapa jenis data social baik yang terpendam (laten)
maupun yang manifest
Jadi data yang tidak dapat diangkat melalui observasi dan angka diharapkan
akan diperoleh dengan menggunakan teknik ini.
c. Teknik Angket
Angket dapat di pandang sebagai teknik penelitian yang banyak kesamaan
dengan wawancara, kecualai dengan pelaksanaannya. Wawancara (interview)
dilakukan dengan secara lisan sedangkan angket secara tulisan oleh karena itu
angket juga di sebut wawancara tertulis (Ali
1987 : 87). Teknik ini di gunakan agar para responden lebih bebas
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di sajikan. Pada pihak lain pemanfaatan
teknik ini di dasarkan atas pertimbangan penulis seluruh siswa yang di sajikan
sampel penelitian ini. Dilihat dari dari bentuknya untuk keperluan pengumpulan
data ini digunakan anket berstruktur, sehingga setiap item telah disediakan
alternative jawaban. Anket ini juga bersifat kooferatif, maksudnya setiap responden
akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang di sediakan sesuai dengan
maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian. Angket ini di maksudkan
untuk memperoleh data tentang prilaku akhlaq anak lulusan madrasah ibtidaiyah
dan akhlaq anak lulusan sekolah dasar di MTs Negri pamulihan Sumedang. Untuk
keperluan penyekoran terhadap alternative jawaban anak, penulis akan
mempertimbangkan orientasi sistem angket yang diajukan dan alternative jawaban.
d. Studi Dokumentasi
Teknik ini di gunakan untuk memperoleh data keterangan daftar anak dan
data yang dipelukan, prosesnya pelaksanaannya dilakukan pada angket sebelum di
sebarkan kepada responden dengan teknik ini diharapkan penulis dapat mengetahui
berapa jumlah anak, prilaku akhlaq anak sehari-hari. Alasan di gunakan studi
dokumentasi ini, karena secara kualitatif data tersebut merupakan data yang
cukup otentik, sehingga diharapkan dapat melengkapi kekurangan yang mungkin
terungkap melalui teknik-teknik lainnya.
- Analisis Data
Analisis data yang dihimpun dalam penelitian ini di
kuantifikasikan ke dalam data kuantitatif. Data kuantitatif yaitu data yang di
peroleh dari hasil penyebaran angket kepada anak lulusan madrasah ibtidaiyah
sebagai variable X dan kepada anak lulusan sekolah dasar sebagai variable Y,
dan data kualitatif yaitu data yang di peroleh dari hasil wawancara (interview)
di analisis dengan menggunakan logika serta penyesuaian melalui pustaka
sehubungan dengan penelitian ini, melibatkan perilaku / akhlaq anak lulusan MI
dan perilaku /ahlak anak lulusan SD, maka data kualitatif akan di analisis
secara logika, sedangkan data kuantitatif akan di analisis secara statistik.
Langkah pertama, memberikan skor kepada item angket yang
berpedoman pada sekor penelitian untuk masing-masing variabel langkah kedua,
mengangkat data variable X dan variable Y yakni mengambil rata-rata (mean) dari
jumlah skor setiap item dengan menggunakan rumusan.
Variable X, Mx =
dan untuk variable Y,My =
Dimana,
Mx, My = Mean yang dicari untuk setiap
responden (X,Y)
∑X, ∑Y = Jumlah dari skor yang ada
N = Number of cases (banyaknya
item soal)
(Anas Sarjono,
1996 : 77).
Langkah
ketiga, yaitu setelah diketahui data dari variable, selanjutnya menentukan
koefisien korelasi dapat dicari melalui rumus korelasi product moment.
Dengan keterangan :
Rxy = Angka indeks korelasi “r”
product moment.
N = Number of cases (subjek
penelitian)
∑XY = Jumlah hasil perkalian antar
skor X dan Y
∑X = Jumlah seluruh skor X
∑Y = Jumlah seluruh skor Y
Anas Sudjano, (1996 : 193)
Sebelum
menggunakan rumus di atas , terlebih dahulu akan dicarikan data tentang
harga-harga perhitungan korelasi yang membuat tabel yang terdiri dari 8 kolom.
Kolom I Subjek
Kolom II Data
variable X ∑X
Kolom III Data
variable Y ∑Y
Kolom IV Deviasi
dari variable X (x) ∑x
Kolom V Deviasi
dari variable Y (y) ∑y
Kolom VI Kuadrat
dari variable X (x²) ∑X²
Kolom VII Kuadrat
dari variable Y (y²) ∑Y²
Kolom VIII Jumlah
perkalian antara variable X dan Y ∑XY
Skor terhadap perhitungan korelasi
berpedoman pada ketentuan berikut ini :
Tabel 2
Data Skor Korelasi Product Momen
Besarnya
“r”
Product
moment
|
Inerpretasi
|
0.0
- 0.20
0.20 – 0.40
0.40 – 0.70
0.70 – 0.90
0.90 – 0.10
|
Koelasi
sangat lemah
Korelasi
lemah
Korelasi
sedang
Korelasi
kuat
Korelasi
sangat kuat
|
Anas Sarjono,
(1996 : 180)
Daftar
Pustaka
Abu ahmadi, Metotdik Khusus Pendidikan Agama, Bandung, Armico, 1989.
Abdul Mujib, Yusuf
Mudzakkir, Ilmi Pendidikan Islam,
Jakarta, Kencana Prenada Media, 2006.
Ahmad Amin, Etika: Ilmu Akhlaq, Jakarta, Bulan Bintang, 1975.
Ahmad tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2006
Anas Sarjono, Pengantar Statisik
Pendidikan,Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1996
Anonimus, Sistem Pendidikan nasional, Jakarta, Sinar Grafika, 1995.
Arif furchon, Pengantar Penelitian
dan Pendidikan, Surabaya, Usaha Nasional, 1982
Barmawi Umar, Materi Akhlaq, Jakarta, Bumi Aksara, 1986
Hartono dan Armicu Aziz, Ilmu Sosial Dasar, Jakarta, Bumi
Aksara,1993.
Hassan Gaos, Dasar-dasar Statistik
Pendidikan, Bandung, Fakultas Tarbiyah IAIN SGD, 1983.
Kartini kartono, Psikologi Umum, Bandung, Mandarmaju,
1996.
Mardalis, Metode Penelitian, Jakarta, Bumi Aksara, 1989.
Moh. Nazir, Metode Penelitian, Jakarta, Grahalia
Indonesia, 2003.
Muh. Uzer Usman, Menjadi
Guru Propesional, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1992.
Muhamad Ali, Pengembangan kurikulum di sekolah,
bandung, Sinar baru, 1992.
Abdul
Mujib, Yusuf Mudzakkir, Ilmi Pendidikan
Islam, Jakarta, Kencana Prenada Media, 2006.
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan,
Bandung, Remaja Rosda Karya, 2006.
Nana Sujana
Ibrahim, Penelitian dan Penilaian
Pendidikan, Bandung, Sinar Argensindo Offset, 2004.
Sukanda Sadeli,
Bimbingan akhlaq yang Mulia, Tasikmalaya, Madrasah ash-Shalih, 1983.
Suharsimi Arikunto, Prosedur
penelitian, Jakarta, Rineka Cipta, 1997.
Sama’un Bakry,
Menggagas Ilmu Pendidikan Islam, Bandung, Pustaka Bani Quraisy, 2005.
UUSPN, Sisdiknas,
Jakarta, Sinar Grafika, 2003.
Wahid, Aqidah akhlaq 2,
Bandung, Armico.2004.
---------, Aqidah
Akhlaq 1, Bandung, Armico. 2004.
http://www.scribd.com/doc/58940382/37/D-Interpretasi-Data
Tidak ada komentar:
Posting Komentar