Minggu, 09 Oktober 2011

SEKRIPSIKU


Perbandingan akhlaq anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusan Sekolah Dasar di MTs Negeri Pamulihan

A.  Latar Belakang Masalah
Manusia adalah mahluk yang diciptakan oleh Allah SWT sempurna, selain keaneka ragaman corak, budaya, bahasa, suku bangsa, warna kulit, dan juga dilengkapi dengan pikiran yang berfungsi sebagai alat berpikir. Setiap manusia memiliki potensi-potensi yang tersimpan dalam jiwa manusia, diantaranya: manusia sebagai mahluk sosial, manusia sebagai mahluk susila, manusia mahluk yang berkeinginan memiliki, mencintai, menguasai, dan di samping itu juga manusia memiliki fitrah yang positif untuk mengajak kepada ajaran kebaikan.
            Hakikat manusia sekilas saja kita ketahui, bahwa tugas hidup manusia sebelum menjadi hamba allah yang shaleh dan mampu menjadi wakil tuhan (kholifah) dimuka bumi ini tentu harus di mulai dengan belajar atau menuntut ilmu, yaitu melalui jalur pendidikan.
            Islam menempatkan pendidikan sebagai salah satu yang esensial dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan manusia dapat membentuk keperibadian, selain itu melalui pendidikan manusia dapat memahami dan menterjemaahkan lingkungan yang dihadapi, sehingga dapat menciptakan suatu karya yang gemilang melalui penelaahan terhadap alam sekitar, yang diperoleh dengan proses pendidikan. Dengan proses pendidikan manusia dapat menghasilkan ilmu pengetahuan.
            Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menjadikan pedoman umat islam yang mengharuskan umatnya untuk mendalami dan mengembangkasn ilmu pengetahuan. Secara teoritis, ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia tidak muingkin dimilikinya tanpa adanya proses pendidikan. Sedangkan pendidikan  sendiri dapat dikasih makna sebagai usaha memasukan ilmu pengetahuan dari orang yang dianggap memilikinya kepada mereka yang dianggap belum memillikinya. Berdasaarkan pengertian ini maka pendidikan berlangsung dalam tiga proses, proses itu adalah: ilmu, usaha memasukannya kepada mereka yang belum memilikinya, dan orang yang dianggap memiliki ilmu(Hasan Langulung, 1988:44)
            Dalam segi istilah pendidikan adalah suatu usaha sadar yang dilakukan orang dewasa kepada mereka yang dianggap belum dewasa. Pendidikan adalah transformasi ilmu pengetahuan, budaya, sekaligus nilai-nilai yang berkembang pada satu generasi agar dapat ditransformasikan pada generasi berikutnya, Dalam pengertian ini, pendidikan tidak hanya mentrasformasikan ilmu, melainkan budaya dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Pendidikan adalah suatu proses yang menyangkut: 1) proses transformasi informasi (proses pembelajaran), 2) perkembangan pribadi, 3) interaksi sosial, dan 4) modifikasi tingkah laku
( Moh Uzer Usman, 1992:1)
            Dengan pendidikan manusia bisa bersikap lebih dewasa, berpengengetahuan dan bijaksana, kehidupan lebih terarah dan berkepribadian yang dibekali dengan keterampilan, sehingga memberikan atau berpeluang untuk sehat baik jasmani maupun rohani dan menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Serta terciptanya tujuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang diarahkan  kepada manusia sebagai mahluk sosial secara menyeluruh, bukan berarti dalam satu lingkungan secara sempit melaunkan secara nasional sesuai dengan UUNomor 12 Tahun 1989 Bab II Pasal 4.
Pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetehuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, keperibadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (UU. Sistem Pendidikan Nasional, 1995:4)

            UU diatas menjelaskan bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya. Dalam pencapaian tujuan itu tidak lepas dari peran serta pendidikan. Peran serta pendidikan merupakan upaya untuk terciptanya kualitas sumberdaya manusia(Hartono dan Azis, 1993:120).
            Dewasa ini bangsa Indonesia tengah dilanda krisis keterpurukan dalam berbagai bidang baik material, spiritual, akhlak. Oleh karena itu perlu adanya dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkannya. Salah satunya melalui jalur pendidikan sebagai salah satu untuk terciptanya sumber daya manusia yang baik. Seperti tertuang dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) sebagai arti dari pendidikan, yaitu:       
Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana proses belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian, keperibadian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan Negara.
( UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat(1)).

Dari UU diatas aspek yang harus paling disoroti disini yaitu akhlak mulia, akhlak yang terpenting dimiliki oleh setiap manusia, akhlaq yang baik menggambarkan keperibadian manusia yang baik, karena akhlaq manusia bisa bersosialisasi dengan orang lain. Penjabaran UU diatas selain kecerdasan, keperibadian, keterampilan, spiritual keagamaan yang baik yaitu akhlak mulia.
Pembinaan akhlak harus dimulai semenjak dini, karena pendidikan akhlaq diusia kanak-kanak itu lebih efisien dan supaya mereka terbiasa. Selain itu berakhlak mulia juga sebagai bekal si anak supaya bisa bersosialisasi dengan baik di waktu dewasa bahkan sebagai bekal untuk bermasyarakat.
Di negara Indonesia ada dua institusi pendidikan, yang pertama dibawah Kementrian pendidikan dan yang kedua dibawah Kementrian Agama. Yang berada dibawah institusi kementrian pendidikan diantaranya: TK, SD, SMP, SMU. Dan yang berada dibawah institusi kementrian agama yaitru: RA, MI, MTs, MA. Kedua institusi diatas merupakan suati permasalahan yang menarik untuk penilis teliti, yaitu sejauh mana perbandingan akhlak dari kedua institusi tersebut.
Akhlaq anak sehari-hari merupakan cerminan akhlaq buat generasi yang akan datang, bahkan suatu negara akan maju disebabkan oleh sumber daya manusianya yang berakhlaq baik, dan sebaliknya negara hancur disebabkan oleh akhlaq manusianya yang jelek. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang masalah ahlak tersebut. Dan karma luasnya masalah yang diteliti, maka penulis membatasi penelitian masalah tersebut di anak MTs. Yang mana di MTs tersebut ada anak lulusan dari Madrasah Ibtidaiyah dan Anak yang lulusan dari Sekolah Dasar. Maka peneliti bermaksud untuk mengangkat judul “Perbandingan Ahlak Anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah dengan akhlak anak lulusan sekolah dasar ” di MTs Negeri Pamulihan Sumedang
B.       Rumusan Masalah
dari latar belakang masalah diatas maka dirimuskan melalui pertanyaan-pertanyaan berikut:
  1. Bagaimana akhlaq anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah di MTs Negri Pamulihan Sumedang
  2. Bagaimana akhlaq anak lulusan Sekolah Dasar di MTs Negri Pamulihan Sumedang
  3. Bagaimana perbandingan akhlaq anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusan Sekolah Dasar di MTs Negri Pamulihan Sumedang

C.      Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui ahlak anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah di MTs Negri Pamulihan Sumedang
2.    Untuk mengetahui ahlak anak lulusan Sekolah Dasar di MTs Negri Pamulihan Sumedang
3.    Untuk mengetahui perbandingan akhlaq anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusa Sekolah Dasar di MTs Negri Pamulihan Sumedang



D.      Kerangka Penelitian
Akhlaq adalah tingkahlaku yang di pengaruhi oleh nilai-nilai yang di yakini oleh seseorang dan sikap menjadi kebahagiaan dari pada kepribadian nilai dan sikap itu pula terpancar dari pada konsep dan gambarannya terhadap hidup. Dengan kata lain, nilai-nilai dan sikap terpancar dari akidahnya yaitu gambaran tentang kehidupan yang di pegang dan di yakini.
Ahmad Amin(1975) mendefinisikan sesuatu yang mencirikan akhlak itu adalah yang di biasakan maksudnya, sesuatu yang mencirikan akhlaq itu kehendak yang di biasakan artinya kehendak itu membiasakan sesuatu, maka kebiasan itu dinamakan akhlak. Ahmad Amin juga menjelaskan arti kehendak, yaitu ketentuan dari beberapa keinginan manusia. Sedangkan kebiasaan ialah perbuatan yang di ulang-ulang sehingga mudah melakukannya. Maka dari itu kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan kearah menimbulkan apa yang di sebut dengan akhlak.
Tidak sedikit yang terjadi dalam praktek kehidupan, akhlak sangat menunjang untuk kelangsungan hidup sehari-hari, karena akhlaq juga manusia bisa berinteraksi sesama manusia, dan karena akhlak juga manusia bias saling memusuhi. Maka penerapan akhlak sangat penting dalam kehidupan. Untuk menumbuhkan suatu akhlaq yang baik perlu di tanamkan semenjak anak-anak, agar menjadi kebiasaan yang bisa di lakukan. Lebih tepat nya ditanamkan dari usia sekolah dasar karena seusia ini anak sudah bisa bersosialisasi dengan temannya.
Imam Ghazali menyebutkan akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa. Dari pada jiwa itu, timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melakukan pertimbangan. Akhlak adalah suatu daya yang bersemi dalam jiwa seseorang hingga dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa dipikir atau direnungkan lagi (AT-Taripah : 90)
Anak di seusia Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah kecenderungan mendidik akhlak itu sangat besar dikarenakan anak seusia itu masih terbiasa dengan lingkungan yang beraneka ragam dan sianak sendiri masih belum punya esensi buat kedepan. Sedangkan untuk mengetahui akhlaq anak dalam kehidupan sehari-hari maka harus jelas dulu indikator-indikatornya. Adapun indikatornya yang harus diteliti diantaranya :
1.      Akhlak anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah
a.       Akhlak terhadap Allah
b.      Akhlak terhadap sesama manusia
c.       Akhlak terhadap sesama mahluk ciptaan Allah
d.      Akhlak terhadap alam sekitar
e.       Akhlak terhadap diri sendiri
2.      Akhlak anak lulusan Sekolah Dasar
a.       Akhlak terhadap Allah
b.      Akhlak terhadap sesama manusia
c.       Akhlak terhadap sesama mahluk ciptaan Allah
d.      Akhlak terhadap alam sekitar
e.       Akhlak terhadap diri sendiri
Dari Uraian Kerangka pemikiran yang di jelaskan tersebut secara skematis dapat di gambarkan sebagai berikut.

Perbandingan
Akhlak anak lulusan Madrasah
Ibtidaiyah

  1. Ahlak terhadap Allah
  2. Ahlak terhadap sesama manusia
  3. Ahlak terhadap sesama mahluk ciptaan Allah
  4. Ahlak terhadap alam sekitar
  5. Ahlak terhadap diri sendiri
Akhlak anak lulusan Sekolah Dasar

  1. Ahlak terhadap Allah
  2. Ahlak terhadap sesama manusia
  3. Ahlak terhadap sesama mahluk ciptaan Allah
  4. Ahlak terhadap alam sekitar
  5. Ahlak terhadap diri sendiri

Responden
 











E. Hipotesis
Dari arti katanya, hipotesis memang dari dua penggalan kata Hypo yang artinya di bawah dan Thesa yang artinya kebenaran. Jadi hipotesis yang kemudian cara menulisnya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia menjadi hipotesis dan berkembang menjadi hipotesis.
Sanafiah faisal (1982:62) mengemukakan bahwa hipotesis merupakan suatu keterangan sementara terhadap permasalahan yang di pertanyakan, Good dan scates (1954) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang di rumuskan serta di terima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang di amati ataupun kondisi-kondisi yang di amati dan di gunakan untuk langkah-langkah selanjutnya.
Adapun kegunaan hipotesis menurut Arif Furchon (1982:126) sebagai berikut ;
  1. Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan suatu bidang
  2. Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat di uji dalam penelitian
  3. Hipotesis memberikan kearah penelitian
  4. Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan
Menuru pendapat Klinger (1973) yang dikutip oleh Moh. Nazer (2003:151) menyatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat tekaan dari hubungan antara dua variable atau lebih.
Bertitik tolak dari kerangka penelitian ini akan memusatkan perhatiannya kepada keterkaitan dua variable yaitu akhlaq anak lulusan madrasah ibtidaiyah sebagai variable X dan akhlaq anak lulusan sekolah dasar sebagai variable Y. dengan menyoroti kenyataan yang melibatkan anak lulusan madrasah ibtidaiyah dan anak lulusan sekolah dasar di MTs Negeri Pamulihan. Penulis dapat menyatakan hipotesis secara teritorial anak lulusan madrasah ibtidaiyah lebih bagus akhlaqnya di banding akhlaq anak lulusan sekolah dasar. Berdasarkan data yang terkumpul peneliti akan menguji apakah hipotesis yang di rumuskan dapat naik setatus jadi teas, atau sebaliknya tumbang sebagai hopitesis, apa bila ternyata tidak terbukti
Untuk menguji hipotesis akan di analisis secara korelasi, yaitu dengan menguji hipotesis nol(Ho) yang menyatakan ada perbedaan yang signifikan antara akhlaq anak lulusan madrasah ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusan sekolah dasar di MTs Negeri Pamulihan sumedang, dan hipotesis alternative(Ha) menyatakan tidak ada perbedaan yang signifikan antara akhlaq anal lulusan madrasah ibtidaiyah dengan akhlaq anak lulusan sekolah dasar. Prinsif pengujian bertolak dati tarif signifikasi 5% penulis membandingkan harga T hitung > T table, maka hipotesis nol(Ho) dinyatakan ditolak dan hipotesis alternatif(Ha) diterima. Sebaliknya jika t hitung < T table, maka hipotesis nol (Ho) diterima, dan hipotesis alternatif ditolak.

F. Langkah-Langkah Penelitian
Langkah-langkah yang dilakuan peneliti adalah sebagai berikut
  1. Jenis Data
secara garis besar data yang dikumpulkan dapat dikelasifikasikan kedalam dua jenis, yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang digambarkan dengan kata-kata yang akan dikumpulkan melalui teknik obsevasi dan wawancara. Sedangkan data kuantitatif data yang berwujud angka-angka hasi; pengukuran atau perhitungan yang diperoleh melalui angket.

  1. Sumber Data
a.      Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi di MTs Negeri Pamulihan Kecamatan Pamulihan Sumedang. Karena di lokasi ini memudahkan penulis untuk mendapatkan data yang di perlukan dan mudah dijangkau penulis.
b.      Menentukan populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi Arikunto 1998 : 45). Populasi adalah penelitian ini di tujukan kepada seluruh siswa di MTs Negeri Pamulihan, menurut kepala madrasah Tsanawiyah Negeri Pamulihan jumlah siswa di MTs Negeri Pamulihan adalah 328 Siswa jumlah anak yang lulusan dari madrasah ibtidaiyah hanya sebgaian kecilnya dari jumlah anak yang tadinya lulusan dari sekolah dasar. Jumlahnya sebagai berikut lulusan SD 314 anak, lulusan MI 14 anak.








TABEL 1
DATA SISWA MENURUT ASAL SEKOLAH
TAHUN PELAJARAN 2010/2011
No
Kelas
SD
MI
Jumlah
1
VII
108
6
114
2
VIII
93
7
100
3
IX
113
1
114
Jumlah
314
14
328

c.       Menentukan Sampel
Sampel adalah sebagaian atau wakil dari populasi yang di teliti (Suharsimi Arikunto 1998 : 45) yaitu :
Untuk sekedar ancer-ancer, maka apa bila subjeknya kurang dari 100 lebih baik di ambil semua, shingga penelitian merupakan penelitian populasi selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat di ambil 10-15% atau 20-25% atau lebih bergantung kemampuan peneliti, wilayah peneliti dan besar kecilnya resiko peneliti.
Berdasarkan penelitian diatas. Maka penulis mengabil jumlah keseluruhan dari anak lulusan Madrasah Ibtidaiyah dan mengambil sebagian dari jumlah anak lulusan sekolah dasar untuk di lakukan penelitian.


  1. Metode Penelitian
Agar penelitian ini dapat berlangsung secara terarah dan efektif maka pendekatan umunya dapat dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan metode deskristif. Yaitu metode yang menuju kepada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang, lebih dai itu ketetapan memilih metode ini didasarkan atas pendapat Muhamad Ali (1987 : 120) yang meyatakan :
Metode deskristif digunakan untuk berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang di hadapi pada situasi sekarang dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan klasifikasi dan analisis / pengolahan data membuat penggambaran tentang sesuatu keadaan secara objektif dalam situasi deskristif situasi.
Sedangkan menurut (Moh. Nazir, 1999:63) metode deskriftif yaitu suatu metode dalam meneliti suatu kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu system pemikiran maupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang yang bertujuan untuk membuat gambaran atau lukisan secara sistematis, actual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Penulis memilih metode ini karena dengan pertimbangan bahwa penelitian yang penulis lakukukantidak hanya sebatas kesimpulan mengumpulkan data melainkan dengan pengolahan pengambilan kesimpulan yang dilengkapi dengan perhitungan statistik.

  1. Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengatisipasi masalah pengumpulan data penulis berketepatan untuk memanfaatkan teknik-teknik observasi, interview, teknik angket, dan studi dokumentasi. Rencana penempatan ke empat teknik tersebut dapat di uraikan sebagai berikut :

a.      Observasi
Observasi adalah teknik penumpulan data dimana penyelidik mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat) terhadap gejala-gejala yang di teliti (Surahmad, 1982 : 155).teknik ini di gunakan mengingat di duga terdapat sejumlah data yang hanya dapat terangkat dengan menggunakan teknik observasi meliputi gambaran umum madrasah Tsanawiyah, kelangsungan proses kegiatan belajar mengajar di Tsanawiyah, interaktif siswa dengan guru dan antara siswa
b.      Interview
Interview adalah sebuah teknik pengumpulan data yang menghendaki komunikasi langsung antara penyelidik dengan subyek sampel, sebagai mana di kemukakan Sutrisni Hadi (1986 : 192) bahwa :
Suatu proses Tanya jawab lisan dalam nama dua orang atau lebih berhadapan secara fisik, yang satu dapat melihat yang lain dapat mendengarkan dengan telinga sendiri-sendirinya tampaknya merupakan alat pengumpulan informasi yang berlangsung tentang beberapa jenis data social baik yang terpendam (laten) maupun yang manifest

Jadi data yang tidak dapat diangkat melalui observasi dan angka diharapkan akan diperoleh dengan menggunakan teknik ini.
c.       Teknik Angket
Angket dapat di pandang sebagai teknik penelitian yang banyak kesamaan dengan wawancara, kecualai dengan pelaksanaannya. Wawancara (interview) dilakukan dengan secara lisan sedangkan angket secara tulisan oleh karena itu angket juga di sebut wawancara tertulis (Ali  1987 : 87). Teknik ini di gunakan agar para responden lebih bebas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di sajikan. Pada pihak lain pemanfaatan teknik ini di dasarkan atas pertimbangan penulis seluruh siswa yang di sajikan sampel penelitian ini. Dilihat dari dari bentuknya untuk keperluan pengumpulan data ini digunakan anket berstruktur, sehingga setiap item telah disediakan alternative jawaban. Anket ini juga bersifat kooferatif, maksudnya setiap responden akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang di sediakan sesuai dengan maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian. Angket ini di maksudkan untuk memperoleh data tentang prilaku akhlaq anak lulusan madrasah ibtidaiyah dan akhlaq anak lulusan sekolah dasar di MTs Negri pamulihan Sumedang. Untuk keperluan penyekoran terhadap alternative jawaban anak, penulis akan mempertimbangkan orientasi sistem angket yang diajukan dan alternative jawaban.
d.      Studi Dokumentasi
Teknik ini di gunakan untuk memperoleh data keterangan daftar anak dan data yang dipelukan, prosesnya pelaksanaannya dilakukan pada angket sebelum di sebarkan kepada responden dengan teknik ini diharapkan penulis dapat mengetahui berapa jumlah anak, prilaku akhlaq anak sehari-hari. Alasan di gunakan studi dokumentasi ini, karena secara kualitatif data tersebut merupakan data yang cukup otentik, sehingga diharapkan dapat melengkapi kekurangan yang mungkin terungkap melalui teknik-teknik lainnya.

  1. Analisis Data 
Analisis data yang dihimpun dalam penelitian ini di kuantifikasikan ke dalam data kuantitatif. Data kuantitatif yaitu data yang di peroleh dari hasil penyebaran angket kepada anak lulusan madrasah ibtidaiyah sebagai variable X dan kepada anak lulusan sekolah dasar sebagai variable Y, dan data kualitatif yaitu data yang di peroleh dari hasil wawancara (interview) di analisis dengan menggunakan logika serta penyesuaian melalui pustaka sehubungan dengan penelitian ini, melibatkan perilaku / akhlaq anak lulusan MI dan perilaku /ahlak anak lulusan SD, maka data kualitatif akan di analisis secara logika, sedangkan data kuantitatif akan di analisis secara statistik.
Langkah pertama, memberikan skor kepada item angket yang berpedoman pada sekor penelitian untuk masing-masing variabel langkah kedua, mengangkat data variable X dan variable Y yakni mengambil rata-rata (mean) dari jumlah skor setiap item dengan menggunakan rumusan.

Variable X,         Mx = dan untuk variable Y,My =            Dimana,
Mx, My           = Mean yang dicari untuk setiap responden (X,Y)
∑X, ∑Y           = Jumlah dari skor yang ada
N                     = Number of cases (banyaknya item soal)
(Anas Sarjono, 1996 : 77).
Langkah ketiga, yaitu setelah diketahui data dari variable, selanjutnya menentukan koefisien korelasi dapat dicari melalui rumus korelasi product moment.
Dengan keterangan :
Rxy = Angka indeks korelasi “r” product moment.
N = Number of cases (subjek penelitian)
∑XY = Jumlah hasil perkalian antar skor X dan Y
∑X = Jumlah seluruh skor X
∑Y = Jumlah seluruh skor Y
Anas Sudjano, (1996 : 193)
Sebelum menggunakan rumus di atas , terlebih dahulu akan dicarikan data tentang harga-harga perhitungan korelasi yang membuat tabel yang terdiri dari 8 kolom.
Kolom I                       Subjek
Kolom II                     Data variable X                       ∑X
Kolom III                    Data variable Y                       ∑Y
Kolom IV                    Deviasi dari variable X (x)                  ∑x
Kolom V                     Deviasi dari variable Y (y)                  ∑y
Kolom VI                    Kuadrat dari variable X (x²)               ∑X²
Kolom VII                  Kuadrat dari variable Y (y²)               ∑Y²
Kolom VIII                 Jumlah perkalian antara variable X dan Y                  ∑XY

Skor terhadap perhitungan korelasi berpedoman pada ketentuan berikut ini :
Tabel 2
Data Skor Korelasi Product Momen
Besarnya “r”
Product moment
Inerpretasi
0.0    - 0.20
0.20 – 0.40
0.40 – 0.70
0.70 – 0.90
0.90 – 0.10
Koelasi sangat lemah
Korelasi lemah
Korelasi sedang
Korelasi kuat
Korelasi sangat kuat
Anas Sarjono, (1996 : 180)






Daftar Pustaka
Abu ahmadi, Metotdik Khusus Pendidikan Agama, Bandung, Armico, 1989.
Abdul Mujib, Yusuf Mudzakkir, Ilmi Pendidikan Islam, Jakarta, Kencana Prenada Media, 2006.
Ahmad Amin, Etika: Ilmu Akhlaq, Jakarta, Bulan Bintang, 1975.
Ahmad tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2006
Anas Sarjono, Pengantar Statisik Pendidikan,Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1996
Anonimus, Sistem Pendidikan nasional, Jakarta, Sinar Grafika, 1995.
Arif furchon, Pengantar Penelitian dan Pendidikan, Surabaya, Usaha Nasional, 1982
Barmawi Umar, Materi Akhlaq, Jakarta, Bumi Aksara, 1986
Hartono dan Armicu Aziz, Ilmu Sosial Dasar, Jakarta, Bumi Aksara,1993.
Hassan Gaos, Dasar-dasar Statistik Pendidikan, Bandung, Fakultas Tarbiyah IAIN SGD, 1983.
Kartini kartono, Psikologi Umum, Bandung, Mandarmaju, 1996.
Mardalis, Metode Penelitian, Jakarta, Bumi Aksara, 1989.
Moh. Nazir, Metode Penelitian, Jakarta, Grahalia Indonesia, 2003.
Muh. Uzer Usman, Menjadi Guru Propesional, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1992.
Muhamad Ali, Pengembangan kurikulum di sekolah, bandung, Sinar baru, 1992.

Abdul Mujib, Yusuf Mudzakkir, Ilmi Pendidikan Islam, Jakarta, Kencana Prenada Media, 2006.
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, Bandung, Remaja Rosda Karya, 2006.
Nana Sujana Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung, Sinar Argensindo Offset, 2004.
Sukanda Sadeli, Bimbingan akhlaq yang Mulia, Tasikmalaya, Madrasah ash-Shalih, 1983.
Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian, Jakarta, Rineka Cipta, 1997.    
Sama’un Bakry, Menggagas Ilmu Pendidikan Islam, Bandung, Pustaka Bani Quraisy, 2005.
UUSPN, Sisdiknas, Jakarta, Sinar Grafika, 2003.
Wahid, Aqidah akhlaq 2, Bandung, Armico.2004.
---------, Aqidah Akhlaq 1, Bandung, Armico. 2004.                                                                                                                 
http://www.scribd.com/doc/58940382/37/D-Interpretasi-Data

Tidak ada komentar:

Posting Komentar