BUDIDAYA UBI CILEMBU
A.
Pembibitan
Tanaman
ubi jalar dapat diperbanyak secara generatif dengan biji dan secara vegetatif
berupa stek batang atau stek pucuk. Perbanyakan tanaman secara generatif hanya
dilakukan pada skala penelitian untuk menghasilkan varietas baru.
1.
Persyaratan Bibit
Bahan
tanaman (bibit) berupa stek pucuk atau stek batang harus memenuhi syarat
sebagai berikut:
- Bibit berasal dari varietas Cilembu ST
- Bahan tanaman berumur 2 bulan atau lebih.
- Bahan tanaman (stek) dapat berasal dari tanaman
produksi dan dari tunas-tunas ubi yang secara khusus disemai atau melalui
proses penunasan.
- Perbanyakan tanaman dengan stek batang atau stek pucuk
secara terus-menerus cenderung menurunkan hasil pada generasi-generasi
berikutnya. Oleh karena itu, setelah 3-5 generasi perbanyakan harus
diperbaharui dengan cara menanam atau menunaskan umbi untuk bahan
perbanyakan.
2.
Penyiapan Bibit
- Pilih tanaman ubi jalar yang sudah berumur 2 bulan atau
lebih, pertumbuhannya sehat dan normal tidak terlalu subur.
- Stek dipotong sepanjang 25-30 cm atau 3-4 ruas, diambil
dari ujung batang atau cabang dan maksimal 3 stek untuk setiap cabang atau
batang bagian tanaman bibit, pemotongan menggunakan pisau yang tajam, dan
dilakukan pada pagi
- Setelah dipotong, bibit direndam dalam larutan
fungisida dengan konsentrasi 2 g/L larutan selama 5 menit
Pengolahan
Tanah
a)
Penyiapan Lahan Tegalan
- Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar (gulma)
- Olahan tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur
sambil membenamkan rumput-rumput liar
- Biarkan tanah kering selama minimal 1 minggu
- Buat guludan-guludan dengan ukuran lebar bawah 60 cm,
tinggi 30-40 cm, jarak antar guludan 70-100 cm, dan panjang guludan
disesuaikan dengan keadaan lahan
- Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air.
b)
Penyiapan Lahan Sawah Bekas Tanaman Padi
- Babat jerami sebatas permukaan tanah
- Tumpuk jerami secara teratur menjadi tumpukan kecil
memanjang berjarak 1 meter antar tumpukan
- Olah tanah di luar bidang tumpukan jerami dengan
cangkul atau bajak, kemudian tanahnya ditimbunkan pada tumpukan jerami
sambil membentuk guludan. Ukuran guludan adalah lebar bawah 60 cm, tinggi
40 cm, lebar atas 40 cm ( untuk ukuran guludan dengan jarak antara gulud
100 cm ) sedangkan untuk jarak antar guludan 80 cm digunakan ukuran lebar
bawah 50 cm, lebar atas 30 cm, tinggi guludan 30 cm
- Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar
guludan. Pembuatan guludan di atas tumpukan jerami atau sisa-sisa tanaman
dapat menambah bahan organik tanah yang berpengaruh baik terhadap struktur
dan kesuburan tanah sehingga ubi dapat berkembang dengan baik dan
permukaan kulit ubi rata. Kelemahan penggunaan jerami adalah pertumbuhan
tanaman ubi jalar pada bulan pertama sedikit menguning, namun segera
sembuh dan tumbuh normal pada bulan berikutnya.
Bila
jerami tidak digunakan sebagai tumpukan guludan, tata laksana penyiapan lahan
sebagai berikut :
- Babat jerami sebatas permukaan tanah
- Singkirkan jerami ke tempat lain untuk dijadikan bahan
kompos
- Olah tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur
- Biarkan tanah kering selama minimal satu minggu
- Buat guludan-gululudan berukuran lebar bawah ±60 cm,
tinggi 35 cm dan jarak antar guludan 80-100 cm.
- Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar
guludan.
Hal
yang penting diperhatikan dalam pembuatan guludan adalah ukuran tinggi tidak
melebihi 40 cm. Guludan yang terlalu tinggi cenderung menyebabkan terbentuknya
ubi berukuran panjang dan dalam sehingga menyulitkan pada saat panen.
Sebaliknya, guludan yang terlalu dangkal dapat menyebabkan terganggunya
pertumbuhan atau perkembangan ubi, dan memudahkan serangan hama boleng Cylas sp.
Teknik
Penanaman
- Penanaman ubi jalar di lahan kering dilakukan pada awal
musim hujan (Oktober), atau awal musim kemarau (Maret) bila keadaan cuaca
normal. Dilahan sawah, waktu tanam yang paling tepat adalah segera setelah
padi rendengan atau padi gadu, yakni pada awal musim kemarau
- Penanaman stek dilakukan pagi hari, setelah direndam
dalam larutan fungisida, stek sebaiknya searah ( menghadap ke timur ) agar
pertumbuhan tanaman menjadi searah
- Stek ditanam miring pada guludan, dengan 1/2-2/3 bagian
masuk ke dalam tanah. Jarak tanam 30-40 cm
- Pada tiap bedengan ditanam 2 deretan dengan jarak
kira-kira 30-40 cm.
Pemeliharaan
Tanaman
1.
Penyulaman
Selama
3 (tiga) minggu setelah ditanam, penanaman ubi jalar harus diamati kontinu,
terutama bibit yang mati atau tumbuh secara abnormal. Bibit yang mati harus
segera disulam. Cara menyulam adalah dengan mencabut bibit yang mati, kemudian
diganti dengan bibit yang baru. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau
sore hari, pada saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu tidak terlalu
panas. Bibit (setek) untuk penyulaman sebelumnya dipersiapkan atau ditanam
ditempat yang teduh.
2.
Penyiangan
Pada
sistem tanam tanpa mulsa jerami, lahan biasanya mudah ditumbuhi rumput liar
(gulma) yang merupakan pesaing dalam pemenuhan kebutuhan akan air, unsur hara,
dan sinar matahari. Oleh karena itu, gulma harus segera disiangi. Bersamaan
dengan penyiangan dilakukan pembumbunan, yaitu menggemburkan tanah guludan,
kemudian ditimbunkan pada guludan tersebut.
Pengendalian
gulma dilakukan secara manual menggunakan kored dan cangkul pada umur 2 minggu
setelah tanam (MST), 5 MST, dan 8 MST atau dilakukan tergantung dari keadaan
rumput
Tata
cara penyiangan dan pembumbunan sebagai berikut:
- Bersihkan rumput liar (gulma) dengan kored atau cangkul
secara hati-hati agar tidak merusak akar.
- Gemburkan tanah disekitar guludan dengan cara memotong
lereng guludan, kemudian tanahnya diturunkan ke dalam saluran antar
guludan.
- Timbunkan kembali tanah ke guludan semula, kemudian
lakukan pengairan hingga tanah cukup basah
3.
Pemupukan
Pemupukan
bertujuan menggantikan unsur hara yang terangkut saat panen, menambah kesuburan
tanah, dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Sebaiknya lahan dipupuk dengan
pupuk organik baik pepuk kandang maupun kompos dengan dosis 10.000 - 20.000
ton/ha. Dosis pupuk yang tepat harus berdasarkan hasil analisis tanah atau
tanaman di daerah setempat. Sebagai acuan dosis pupuk/ha yang dianjurkan adalah
:
-
100 kg N ( ± 200-250 kg Urea)
-
50 Kg P2O5 (± 100-150 kg TSP/SP-36)
-
200 kg K2O (± 300-350 kg KCL)
Pemberian
pupuk dilakukan dalam larikan dengan jarak garitan 10 cm dari lubang setek
sedalam 5 cm. Waktu pemupukan sebagai berikut:
-
Saat tanam : Urea diberikan 1/3 takaran, SP-36, KCL diberikan seluruhnya pada
saat tanam.
-
Umur 6 minggu setelah tanam ; Urea 1/3 dari takaran
-
Umur 12 minggu setelah tanam ; Urea 1/3 dari takaran
4.
Pembalikan batang dan pucuk
Pembalikan batang dan pucuk bertujuan untuk meningkatkan hasil
umbi, pembalikan dan pengangkatan batang dilakukan tiap 3 minggu sekali, sebab
pada tanaman yang pertumbuhannya subur dalam waktu satu bulan akan menjalar
sepanjang 1-1,5 m. Bila batang terus dibiarkan menjalar di atas tanah dengan
segera akan tumbuh akar di ketiak-ketiak daun. Akar akan membentuk umbi-umbi
kecil yang mengurangi cadangan makanan bagi umbi di batang utama. Pembalikan
batang dimaksudkan untuk mematikan akar yang tumbuh pada ketiak daun.
5.
Pemangkasan
Tanaman yang terlalu subur perlu dipangkasan sebab tanaman yang
daunya terlalu rimbun akan mengurangi hasil umbi. Pemangkasan dilakukan dengan
menggunakan pisau tajam. Mengenai berapa daun yang harus dibuang tidak bisa
ditentukan kapasitasnya karena sangat tergantung pada keadaan tanaman. Pemangkasan
dilakukan pada sulur-sulur yang merayap dalam saluran di sela-sela bedengan.
Hasil pemangkasan dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak.
6.
Pengairan dan Penyiraman
Meskipun
ubi jalar tahan kekeringan, fase awal pertumbuhan memerlukan air tanah yang
memadai.
- Seusai tanam, guludan diairi selama 15-30 menit hingga
tanah cukup basah, kemudian airnya dibuang.
- Pengairan berikutnya masih diperlukan secara kontinu
hingga tanaman berumur 1-2 bulan.
- Pada periode pembentukan dan perkembangan ubi, yaitu
umur 2-3 minggu sebelum panen, pengairan dikurangi atau dihentikan.
- Waktu pengairan yang paling baik pagi atau sore hari.
- Di daerah yang sumber airnya memadai, pengairan dapat
dilakukan kontinu seminggu sekali. Hal yang penting diperhatikan dalam
pengairan adalah menghindari agar tanah tidak terlalu becek (air
menggenang).
PENGENDALIAN
HAMA DAN PENYAKIT
A.
Hama
a)
Penggerek Batang Ubi Jalar
Stadium hama yang merusak tanaman ubi jalar adalah larva (ulat).
Cirinya adalah membuat lubang kecil memanjang (korek) pada batang hingga ke
bagian ubi. Di dalam lubang tersebut dapat ditemukan larva (ulat). Gejala:
terjadi pembengkakan batang, beberapa bagian batang mudah patah, daun-daun
menjadi layu, dan akhirnya cabang-cabang tanaman akan mati. Pengendalian: (1)
rotasi tanaman untuk memutus daur atau siklus hama; (2) pengamatan tanaman pada
stadium umur muda terhadap gejala serangan hama: bila serangan hama >5%,
perlu dilakukan pengendalian secara kimiawi; (3) pemotongan dan pemusnahan
bagian tanaman yang terserang berat; (4) penyemprotan insektisida yang mangkus
dan sangkil, seperti Curacron 500 EC atau Matador 25 dengan konsentrasi yang
dianjurkan.
b)
Hama Boleng atau Lanas
Serangga dewasa hama ini (Cylas formicarius Fabr.) berupa
kumbang kecil yang bagian sayap dan moncongnya berwarna biru, namun toraknya
berwarna merah. Kumbang betina dewasa hidup pada permukaan daun sambil
meletakkan telur di tempat yang terlindung (ternaungi). Telur menetas menjadi
larva (ulat), selanjutnya ulat akan membuat gerekan (lubang kecil) pada batang
atau ubi yang terdapat di permukaan tanah terbuka. Gejala: terdapat
lubang-lubang kecil bekas gerekan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan
berbau menyengat. Hama ini biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang sudah
berubi. Bila hama terbawa oleh ubi ke gudang penyimpanan, sering merusak ubi
hingga menurunkan kuantitas dan kualitas produksi secara nyata. Pengendalian:
(1) pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis tanaman yang tidak sefamili
dengan ubi jalar, misalnya padi-ubi jalar-padi; (2) pembumbunan atau penimbunan
guludan untuk menutup ubi yang terbuka; (3) pengambilan dan pemusnahan ubi yang
terserang hama cukup berat; (4) pengamatan/monitoring hama di pertanaman ubi
jalar secara periodik: bila ditemukan tingkat serangan > 5 %, segera
dilakukan tindakan pengendalian hama secara kimiawi; (5) penyemprotan
insektisida yang mangkus dan sangkil, dengan konsentrasi yang dianjurkan; (6)
penanaman jenis ubi jalar yang berkulit tebal dan bergetah banyak; (7)
pemanenan tidak terlambat untuk mengurangi tingkat kerusakan yang lebih berat.
c)
Tikus (Rattus rattus sp)
Hama tikus biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang berumur cukup tua
atau sudah pada stadium membentuk ubi. Hama Ini menyerang ubi dengan cara
mengerat dan memakan daging ubi hingga menjadi rusak secara tidak beraturan.
Bekas gigitan tikus menyebabkan infeksi pada ubi dan kadang-kadang diikuti
dengan gejala pembusukan ubi. Pengendalian: (1) sistem gerepyokan untuk
menangkap tikus dan langsung dibunuh; (2) penyiangan dilakukan sebaik mungkin
agar tidak banyak sarang tikus disekitar ubi jalar; (3) pemasangan umpan
beracun, seperti Ramortal atau Klerat.
B.
Penyakit
a)
Kudis atau Scab
Penyebab: cendawan Elsinoe batatas. Gejala: adanya benjolan pada
tangkai serta urat daun, dan daun-daun berkerut seperti kerupuk. Tingkat
serangan yang berat menyebabkan daun tidak produktif dalam melakukan
fotosintesis sehingga hasil ubi menurun bahkan tidak menghasilkan sama sekali.
Pengendalian: (1) pergiliran/ rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup
penyakit; (2) penanaman ubi jalar bervarietas tahan penyakit kudis, seperti
daya dan gedang; (3) kultur teknik budi daya secara intensif; (4) penggunaan
bahan tanaman (bibit) yang sehat.
b)
Layu fusarium
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum, F. batatas. Gejala: tanaman
tampak lemas, urat daun menguning, layu, dan akhirnya mati. Cendawan fusarium
dapat bertahan selama beberapa tahun dalam tanah. Penularan penyakit dapat
terjadi melalui tanah, udara, air, dan terbawa oleh bibit. Pengendalian: (1)
penggunaan bibit yang sehat (bebas penyakit); (2) pergiliran /rotasi tanaman
yang serasi di suatu daerah dengan tanaman yang bukan famili; (3) penanaman
jenis atau varietas ubi jalar yang tahan terhadap penyakit Fusarium.
c)
Virus
Beberapa jenis virus yang menyerang tanaman ubi jalar adalah Internal
Cork, Chlorotic Leaf Spot, Yellow Dwarf. Gejala: pertumbuhan batang dan daun
tidak normal, ukuran tanaman kecil dengan tata letak daun bergerombol di bagian
puncak, dan warna daun klorosis atau hijau kekuning-kuningan. Pada tingkat
serangan yang berat, tanaman ubi jalar tidak menghasilkan. Pengendalian: (1)
penggunaan bibit yang sehat dan bebas virus; (2) pergiliran/rotasi tanaman
selama beberapa tahun, terutama di daerah basis (endemis) virus; (3)
pembongkaran/eradikasi tanaman untuk dimusnahkan.
d)
Penyakit Lain-lain
Penyakit-penyakit yang lain adalah, misalnya, bercak daun cercospora
oleh jamur Cercospora batatas Zimmermann, busuk basah akar dan
ubi oleh jamur Rhizopus nigricans Ehrenberg, dan klorosis daun oleh
jamur Albugo ipomeae pandurata Schweinitz. Pengendalian: dilakukan
secara terpadu, meliputi perbaikan kultur teknik budi daya, penggunaan bibit
yang sehat, sortasi dan seleksi ubi di gudang, dan penggunaan pestisida
selektif.
PANEN
1.
Ciri dan Umur Panen
Tanaman ubi jalar dapat dipanen bila ubi-ubinya sudah tua (matang
fisiologis). Ciri fisik ubi jalar matang, antara lain: bila kandungan tepungnya
sudah maksimum, ditandai dengan kadar serat yang rendah dan bila direbus
(dikukus) rasanya enak serta tidak berair. Penentuan waktu panen ubi jalar
didasarkan atas umur tanaman. Jenis atau varietas ubi jalar berumur pendek
(genjah) dipanen pada umur 3-3,5 bulan, sedangkan varietas berumur panjang
(dalam) sewaktu berumur 4,5-5 bulan. Panen ubi jalar yang ideal dimulai pada
umur 3 bulan, dengan penundaan paling lambat sampai umur 4 bulan. Panen pada
umur lebih dari 4 bulan, selain resiko serangan hama boleng cukup tinggi, juga
tidak akan memberikan kenaikan hasil ubi.
2.
Cara Panen
Tata
cara panen ubi jalar melalui tahapan sebagai berikut:
- Tentukan pertanaman ubi jalar yang telah siap dipanen.
- Potong (pangkas) batang ubi jalar dengan menggunakan
parang atau sabit, kemudian batang-batangnya disingkirkan ke luar petakan
sambil dikumpulkan.
- Galilah guludan dengan cangkul hingga terkuak
ubi-ubinya.
- Ambil dan kumpulkan ubi jalar di suatu tempat pengumpulan
hasil.
- Bersihkan ubi dari tanah atau kotoran dan akar yang
masih menempel.
- Lakukan seleksi dan sortasi ubi berdasarkan ukuran
besar dan kecil ubi secara terpisah dan warna kulit ubi yang seragam.
Pisahkan ubi utuh dari ubi terluka ataupun terserang oleh hama atau
penyakit.
- Masukkan ke dalam wadah atau karung goni, lalu angkut
ke tempat penampungan (pengumpulan) hasil.
PASCAPANEN
1.
Pengumpulan
Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah
dijangkau oleh angkutan. Pemilihan atau penyortiran ubi jalar dapat dilakukan
pada saat pencabutan berlangsung atau setelah semua pohon dicabut dan ditampung
dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi berdasarkan warna
kulit umbi kecacatan, ukuran umbi, bentuk serta bercak hitam/garis- garis pada
daging umbi.
2.
Penyimpanan
Penyimpanan ubi jalar cilembu selain ditujukan untuk mempertahankan daya
simpan, juga bertujuan agar umbi lebih manis. Penyimpanan ubi yang paling baik
dilakukan dalam pasir atau abu dengan cara sebagai berikut:
- Angin-anginkan ubi yang baru dipanen di tempat yang
berlantai kering selama 2-3 hari.
- Siapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau
gudang yang kering, sejuk, dan peredaran udaranya baik.
- Tumpukkan ubi di lantai gudang, kemudian timbun dengan
pasir kering atau abu setebal 20-30 cm hingga semua permukaan ubi
tertutup. Cara penyimpanan ini dapat mempertahankan daya simpan ubi sampai
5 bulan. Ubi jalar yang mengalami proses penyimpanan dengan baik biasanya
akan menghasilkan rasa ubi yang manis dan enak bila dibandingkan dengan
ubi yang baru dipanen. Hal yang penting dilakukan dalam penyimpanan ubi
jalar adalah melakukan pemilihan ubi yang baik, tidak ada yang rusak atau
terluka, dan tempat (ruang) penyimpanan bersuhu rendah antara 27-300C
(suhu kamar) dengan kelembapan udara antara 85-90%.
- Penyimpanan juga dapat dilakukan pada rak-rak atau
menghindari penyimpanan umbi di lantai secara langsung atau dalam
keranjang bambu dengan alas berupa abu atau pasir kering dan Penyimpanan
ubi pada para-para ( rak bambu ) yang diletakan dekat dapur