BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan sesuatuyang sangat penting bagi manusia. Melalui pendidikan manusia dapat belajar menghadapi alam semesta demi mempertahankan hidupnya. Secara bahasa pendidikan diartikan sebagai usaha memasukan ilmu pengetahuan dari orang yang dianggap memiliknya kepada orang yang dianggap belum memilikinya. Berdasarkan pengertian ini, maka pendidikan berlangsung dalam tiga proses, yaitu: ilmu, usaha memasukan kepada orang yang dianggap belum memilikinya, dan orang yang dianggap memilikinya[1].
Sedangkan menurut istilah pendidikan diartikan sebagai usaha sadar yang dilakukan orang dewasa kepada mereka yang dianggap belum dewasa. Pendidikan adalah transformasi ilmu pengetahuan, budaya sekaligus nilai-nilai yang berkembang pada suatu generasi, agar dapat di transformasikan kepada generasi berikutnya.
Perkembangan dan dinamika manusia berlangsung di atas hukum alam yang ditetapkan Allah SWT dan kemudian disebut sunnatullah. Akan tetapi proses yang digunakan dalam pendidikan adalah proses yang terarah dan dan bertujuan mengarahkanmanusia(anak didik) kepada titik optimal kemampuannya[2]. Sedangkn tujuan yang hendak dicapai adalah terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh sebagai manusia individual, sosial serta sebagai hamba tuhan yang mengabdikan diri kepada-Nya[3]. Tidak terkecuali pendidikan prasekolah, hal itu disebabkan karena pendidikan prasekolah merupakan dasar atau pondasi seperti yang tercantum dalamtulisan Kasant k kapur pada The Straith Times “ pohon oak yang besar tumbuh dari biji-bijian yang kecil”. Sangat jelas sekali pendidikan usia dini itu sangat membantu pertumbuhan daya kembang seorang anak dan tentunya proses pembelajarannya disesuaikan dengan pendidikan prasekolah.
BAB II
PEMBAHASAN
PENDIDIKAN PRASEKOLAH
(Belajar Adalah Bermain Anak)
Pendidikan prasekolah merupakan suatu cara untuk menumbuhkan suatu kemandirian dan kebiasaan-kebiasaan yang positif pada perkembangan masa depannya. Dalam artian yang pendek bisa juga sebagai persiapan ketika anak memasuki sekolah dasar, persiapan disini berupa fisik, mental, sosial dsb. Seperti dalam sebuah artikel yang di muat oleh buleti di akademi Amerika yang di tulis oleh Dr. K.R Ginsburg (2007) mengatakan bermain memungkinkan seorang anak untuk berkreatifitas sambil mengembangkan imajinasinya, ketangkasan, kekuatan fisik, dan dengan bermain juga sangat penting untuk perkembangan kesehatan otak dan katanya juga dengan bermain yang diarahkan memungkinkan anak untuk belajar bekerja sama, berbagi, dan merundingkannya.
Mr. S Smilansky (1990) mengatakan bahwa bermain secara langsung berkaitan dengan banyaknya keterampilan yang esensial untuk keberhasilan akademis baik verbal, strategi pemecahan masalah yang baik, tingginya kompetensi intelektual, mempunyai rasa ingin tahu yang lebih, empati, penyesuaian sosial dan emosional, berinovasi yang lebih, berimajinasi yang lebih, dst.
Sangat jelas sekali pendapat diatas, pendidikan prasekolah tidak berfokus kepada anak untuk bisa memahami baca atau tulis saja, yaitu hanya mengarahkan pada kebisaan-kebiasaan yang nantinya akan menjadi suatu kebiasaan ditahapan sekolah berikutnya. Walaupun pendidikan prasekolah menitik beratkan pada orientasi bermain. Seperti pendapat Mr. K. Hirsch-Pasek dan Mr. R.M. golinkoff (2003) menyatakan bermain mengajarkan anak untuk berpikir dan membantu mereka dalam menyelesaikan masalah.
Kata lain dari kedua penulis diatas mengatakan pendidikan prasekolah “ outside box” yaitu dalam artian tidak ada penekanan terhadap anak untuk belajar, tetapi dengan cara anak dibiarkan untuk bermain dan mengekpresikan kreatifitasnya, dan tentunya dalam hal ini tugas seorang pendidik membimbing dan mengarahkannya.
Salah satu majalah di Jerman “Der Spigel” (1997) melakukan suatu perbandingan antara 50 TK yang berorientasi akademis dengan 50 TK yang berorientasi bermain. Ternyata hasil dari perbandingan anak-anak yang berorientasi bermain lebih baik daripada anak-anak yang berorientasi akademis. Dengan hasil itu maka TK di Jerman beralih dari yang berorientasi akademis menjadi yang berorientasi bermain. Hal diatas senada dengan Mr. R.A Marcon (2002) yang menyatakan bahwa anak-anak yang mengikutu program orientasi bermain pada pendidikan pra sekolah dimana anak-anak mendominasi serta bekerja lebih baik secara akademik dibandingkan denga anak-anak yang mengikuti program akademis.
Bandingkan juga dengan pendidikan prasekolah di Singapura, disana ada dua penggabungan antara keduanya, yaitu bermain dan intruksi akademis. Mentri pendidikan singapura mengatakan kegiatan pendidikan prasekolah di singapura meliputi kegiatan pembelajaran yang mengembangkan kemampuan bahas, keaksaraan, konsep-konsep dasar angka, konsep-konsep ilmiah sederhana, keterampilan sosial, apresiasi musik, serta bermain outdor. Dari ungkapan diatas di Singapura pendidikan prasekolah itu ada keseimbangan diantara keduanya. Senada dengan itu Ms. Lina Ong, pendiri Baby Inc mengatakan” kita mungkin satu-satunya negara di dunia yang mengharuskan anak-anak untuk tahu mengeja dan menfhitung sebelum masuk TK”.
Selain Singapura, Finlandia juga meyakini sebagai negara yang memiliki sistem pendidikan yang baik dan diidentifikasi oleh WEF memiliki perekonomian yang kompetitif. Baru-baru ini tulisan Y.W. Yong. A Chongvilavion dan J.Y Chew berbicara pada pusat penerapan dan kebijakan Singapura “ Anak-anak di Singapura berprasangka mengetahui A B C dan matematika dasar ketika masuk sekolah dasar, anak-anak di Finlandia diharapkan untuk mempelajari dasar membaca, dan matematika hanya ketika masuk sekolah yang komprehensif (usia tujuh tahun). Terbukti,pendidikan prasekolah yang berorientasi di Finlandia tidak berjalan pada kerugian pendidikan dan perekonomianya, tetapi kenyataan sebaliknya WEF memuji Finlandia sebagai “inovasi kebudayaan”.
Tekanan orang tua dikutif sebagai faktor ditempat TK tuntunan pada anak-anak muda disini. Tetapi orang tua mungkin menanggapi apa yang mereka anggap sebagai “pencapaian yang diharapkan” anak-anak ketika mereka memasuki sekolah ideal utama, harus bertahap, masa transisi dari TK sampai sekolah dasar, dengan waktu yang cukup untuk bermain diarahkan selama tahun-tahun sekolah dasar juga. Namun, ini tampaknya tidak terjadi kasus, sebagai serentetan artikel Koran terakhir dan menunjukkan surat-surat.
Salah satu pembaca mengatakan putrinya telah mengambil enam tahun terakhir pemeriksaan dalam 1 primer, lain mencatat : “ Anak-anak ( di SD kelas 1) mendapatkan ton pekerjaan rumah, tes sering, dan ya, daftar pekerjaan rumah untuk liburan juni yang meliputi matematika dan latihan bahasa Inggris, membaca 10 buku cerita, membuat model sekolah, menghasilkan buku kesehatan dan menulis jurnal/ tiga kali seminggu.”
Reporter Tan Dawn Wei dari surat kabar ini melaporkan: hamper setengah (dari 200 murid sekolah dasar yang disurvei ) mengatakan mereka merasa tidak mendapatkan cukup tidur setiap hari, kerjaan rumah dan sekolah adalah alas an utama mereka dikutip untuk berputar diakhir. Ternyata otoritas pendidikan disini berfikir bahwa murid utama lebih rendah harus mendapatkan “ setidaknya delapan jam” tidur sehari, sedangkan Dokter anak merekomendasikan 10-11 jam. Seperti diamati Ms Tan, “kurang tidur dapat mempengaruhi perhatian anak, memori, pengambilan keputusan dan kreativitas”.
Akan muncul bahwa “mengajar kurang, belajar lebih banyak” mengumumkan inisiatif beberapa tahun yang lalu untuk tidak memadai dipraktekkan di sekolah. Seperti hidup kembali terlihat pendidikan Pra-sekolah ai Singapura, juga harus mengurangi “pencapaian yang diharapkan” pada awal sekolah dasar, serta beban kerja sekolah dasar, dan memastikan bahwa ada kelancaran, menyakitkan dan akhirnya lebih produktif transisi ke sekolah dasar.
[1] Hasan Langulung, Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta, Radar Jaya Ofsett,1998.
[2] Drs. H. Sama’un Bakry, M.Ag, MenggagasIlmu Pendidikan Islam, Bandung Pustaka Bani Quraisy, 2005, hlm 31.
[3] H.M. Arifin,Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1994, hlm 11. Dan lihat pula UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar